Ini 9 Permainan Tradisional yang Dulu Marak di Bulan Ramadhan
Ini 9 permainan tradisional yang dulu marak di bulan Ramadhan

PEMALANG, Mediakita.co– Bulan Ramadhan, selain sebagai bulan ibadah penuh berkah, kedatangannya memiliki makna tersendiri bagi anak-anak pada umumnya. Dulu, beberapa permainan anak tradisional mendadak jadi ramai seiring dengan datangnya bulan Ramadhan.

Berikut ini beberapa permainan tradisional yang dulu pernah menjadi permainan paforit bagi anak-anak Indonesia, terutama di Pemalang – Jawa Tengah (Jateng) :

  1. Bal-balan.

Permainan ini kemudian dikenal dengan permainan sepak bola. Setiap bulan Rhamadan, permainan ini tiba-tiba menjadi tren bagi anak-anak untuk menunggu waktu datangnya berbuka puasa.

Kasti yang banyak dimainkan anak-anak, pemain dibagi dua regu, salah satu mendapat giliran jaga dan satu regu lagi mendapat giliran untuk memukul. Disediakan beberapa pos yang ditandai dengan tiang dimana pemain serang (yang mendapat giliran pukul) tak boleh di”gebok” atau dilempar dengan bola. Pemain serang bergiliran memukul bola yang diumpan oleh salah seoarng pemain jaga. Pemain jaga berjaga dilapangan untuk mencoba menangkap pukulan pemain serang. Ketika bola terpukul pemain serang berlari ke pos berikut atau “pulang” ke “rumah” yang dibatasi dengan sebuah garis. Kalau pemain yang sedang lari menuju pos atau pulang dapat di”gebok” dia dinyatakan mati dan kedua regu berganti – regu serang jadi regu jaga dan sebaliknya.

  1. Lompat karet.

Lompat Tinggi adalah salah satu permainan yang cukup di gemari anak-anak. Ini merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an sampai 80-an. Permainan sederhana namun bermanfaat dan biasanya oleh anak-anak dulu dijadikan permainan paforit di Bulan Ramadhan. Lompat Karet bisa dijadikan sarana bermain sekaligus berolah raga.

  1. Gobak sodor.

Gobak Sodor adalah sejenis permainan anak-anak pada masa dulu yang sering kali menjadi salah satu permainan pilihan utama untuk mengisi waktu luang sore hari jelang berbuka Puasa di Bulan Ramadhan. Permainan ini berregu yang biasanya terdiri dari dua grup, dimana masing-masing tim terdiri 3-5 orang. permainan ini lebih mengandalkan komunikasi dan kekompakan tim saat bermainnya.

  1. Mercon bumbung

Mercon Bumbung, begitulah orang biasa menyebutnya, berbahan dari batang bambu. Meriam bambu atau ‘mercon bumbung’ biasa dimainkan anak-anak untuk mengisi waktu menjelang saat buka puasa. Kadang juga berlanjut lepas maghrib sambil menunggu waktu isya untuk tarawih bersama.

  1. Rok umpet

Petak Umpet atau Rok Umpet salah satu permainan yang memiliki pesan moral yang cukup berarti, permainan ini menjunjung tinggi akan nila-nilai kejujuran para pemainnya. Dengan menutup mata dengan batas waktu tertentu sambil menuggu para pemain lainnya bersembunyi, ketika pemain yang lain sudah bersembunyi semua, pemain yang menutup mata tersebut membuka matanya untuk bergegas mencari para pemain lainnya yang bersembunyi. permainan ini biasanya menjadi salah satu permainan menarik anak-anak ketika sesudah berbuka puasa.

  1. Bedilan

Permainan yang satu ini terbuat dari batang bambu dan buah pucang sebagai pelornya setelah perkembangan zaman buah pucang yang di jadikan pelor tersebut di gantikan posisinya oleh kertas yang sudah di basahi air, biasanya permainan ini ramai di mainkan di bulan Ramadhan, bisa di bilang permainan ini bisa menumbuhkan jiwa patriotismenya anak-anak.

  1. Panggalan

Gasing atau nama tradisionalnya panggalan salah satu permainan anak-anak yang populer hingga saat ini, permainan ini berkembang tidak hanya di dalam negeri saja bahkan di luar negeri pun permaianan ini sangat populer. Permainan ini di mainkan lebih dari satu pemain, siapa panggalannya yang lebih lama berputar itu lah pemenangnnya. Di bulan Ramadhan permaianan ini tidak sering kali di mainkan karna permainan ini biasanya bersifat musiman.

  1. Glatik

Dalam permainannya, glatik menggunakan kayu sebagai objek bermainnya. Kayu yang seperti apa ? Ya, hanya terdiri dari dua kayu yang berbeda ukuran. Yang satu panjang kira-kira seukuran 40 cm dan yang satunya lagi pendek berukuran kira-kira 10 cm. Fungsi dari kedua kayu ini jelas berbeda, sama seperti hukum yang dianut oleh sebagian manusia rimba, Yang besar akan menindas yang kecil. Cara mainnya biasanya beregu/tim, bisa 2 regu atau lebih. Bisa juga banyak regu lho, bisa 3 bisa 4, 10, 20..100 juga bisa….lebay. Yaaa….permainan ini tidak hanya terbtasa pada pertandingan antar dua regu/tim saja, bisa lebih dari 2 regu.

BACA JUGA :  Puluhan Warga Gruduk Kantor Desa Sumur kidang Pemalang