Kenali Cara Penjahat Kemanusiaan Beroperasi Di Wilayah Bencana
Farid, penjahat kemanusiaan bansos aceh (Foto:liputan6.com)

Nasional, mediakita.co – Berncana yang bertubi-tubi terjadi di Indonesia menggerakkan  solidaritas banyak orang untuk meringankan beban para korban. Gelombang bantuan begitu banyak disalurkan ke daerah bencana.

Penderitaan para korban benar-benar menggugah kemanusiaan banyak orang dengan cepat mengulurkan tangan. Meskipun derita korban sungguh menyayat hati namun ada saja orang-orang yang tidak berperikemanusiaan yang mencoba memanfaatkan kondisi tersebut.

Tak hanya para oknum pejabat yang melakukan hal itu dengan menilap bantuan untuk para korban melalui korupsi tetapi juga sekelompok masyarakat umum tidak memiliki nilai kemanusiaan yang sama. Mereka memanfaatkan kondisi psikologis para relawan yang terbuka kepada siapa pun untuk diberi bantuan.

Berikut modus operasi para penjahat kemanusiaan yang dihimpun mediakita.co dari peristiwa bencana gempa yang mengguncang Sulbar  (14/01/21) yang lalu. Modus-modus sperti ini banyak juga terjadi pada bencana-bencana sebelumnya yang terjadi di tanah air.

Pertama, mereka mendatangi posko-posko bantuan secara berkelompok yang lain mengalihkan perhatian para relawan dan yang lain mencari dan mengambil barang-barang berharga para relawan seperti handpone, dompet, dll.

BACA JUGA :  Update Corona Nasional 8 April : Dekati 3.000 Orang, RSUP Persahabatan Hanya Mampu Tampung 6-12 dari 60-80 Pasien Rujukan

Kedua, mereka mendatangi posko bantuan dengan mengatakan mereka juga terdampak bencana dan membutuhkan bantuan, namun sebenarnya mereka adalah warga yang tidak terdampak bencana.

Ketiga, mereka ikut membangun tenda pengungsian di tengah-tengah korban bencana, dengan demikian mereka memiliki alasan untuk dibantu dan mendapat bantuan.

Keempat, mendirikan posko bantuan dan mengumpulkan bantuan dari masyarakat tetapi tidak disalurkan melainkan digunakan sendiri atau dijual kembali.

Kelima, meminta bantuan secara paksa kadang-kadang disertai kekerasan seperti yang banyak terjadi di Mamuju dan Majene. Para relawan dihadang dijalan lalu barang-barang bantuan mereka dirampas secara paksa.

Dengan adanya para penjahat kemanusiaan ini yang memanfaatkan bencana untuk meraup keuntungan tidak menyurutkan semangat kita untuk membantu tetapi pastikan bantuan kita jatuh pada tangan yang tepat. Selain memiliki hati yang tulus membantu, diperlukan pula kebijaksanaan agar bantuan kita benar-benar diterima oleh mereka yang kesusahan.

Selain waspada modus-modus kejahatan di lokasi bencana, kita juga harus waspada modus-modus kejahatan pengumpulan bantuan yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan jika bencana melanda. Banyak penggalang donasi dan bantuan atas nama korban bencana tetapi mereka menyalahgunakan pemanfaatannya. (Prb/mediakita.co)

BACA JUGA :  Beda Pandangan Mahfud MD dan Yasonna Laoly, Ini Alasan Kedua Menteri Jokowi Soal Pembebasan Napi Korupsi