Krisis Ekonomi Dunia Setelah Pandemi?
Suchjar Effendi

Dalam pandangan ekonom, uang bagaikan darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuh manusia. Tanpa sirkulasi darah, tidak ada kehidupan. Demikian pula dengan uang, yang mengalir ke seluruh kehidupan manusia. Kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi memerlukan uang.

Francois Quesnay, seorang dokter di istana raja Perancis, Ludwig XV abad 18 melihat adanya kemiripan tubuh manusia dengan sebuah kegiatan perekonomian. Dokter pada waktu itu percaya, berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan mengeluarkan darah melalui urat nadi. Misalnya, tekanan darah tinggi dapat diturunkan dengan mengeluarkan darah melalui nadi, sehingga tekanan darah menjadi normal kembali.

Demikian pula dengan uang yang beredar di masyarakat. Jumlah uang beredar paling tidak harus disesuaikan dengan jumlah produksi barang dan jasa. Jika uang beredar terlalu banyak, maka akan terjadi inflasi. Ilmu kedokteran modern sudah berkembang jauh, demikian pula teori dan perkembangan ekonomi abad 21. Namun untuk menjelaskan tentang uang dalam sebuah perekonomian nasional maupun internasional, kita masih dapat memulainya dengan penjelasan sederhana.

Pandemi Covid-19

Sejak diumumkan pertama kalinya kasus covid -19 atau virus corona oleh WHO, sampai 9 Juni 2021 tercatat sebanyak 174,7 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus tersebut, 3,7 juta diantaranya meninggal dunia.

Berbagai tindakan untuk mencegah meluasnya virus corona, pemerintahan di seluruh dunia sepakat untuk melakukan pembatasan pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lainnnya, atau dari satu kota ke kota lainnya sampai pergerakan antar negara. Kita mengenal istilah baru, The Great lockdown, karantina massal.

Dampaknya terhadap perekonomian adalah menurunnya kegiatan produksi domestik maupun internasional, jumlah pengangguran meningkat. Penerimaan pemerintah dari pajak menurun drastis. Di sisi lain, pengeluaran pemerintah untuk memberikan subsidi kepada perusahaan swasta maupun BUMN dan pekerja yang di PHK mengalami peningkatan. Dana pengadaan vaksin sangat besar jumlahnya. Defisit anggaran meningkat tajam. Solusinya: pemerintah berhutang dengan menerbitkan obligasi atau surat hutang, baik di dalam maupun di luar negeri atau memakai dana masyarakat dari non perbankan.

Bank Sentral, di Indonesia Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan. Mengikuti langkah yang dilakukan Bank Sentral Amerika, the Fed, Bank Sentral Eropa, ECB atau Bank of Japan dll. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang nomor 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan.

Analisa kebijakan moneter selama pandemi

Dalam analisanya di majalah Wirtschafts Woche, Malte Fischer pada 26 Mei 2021 menulis “Apakah Bank Sentral di seluruh dunia dapat menghentikan inflasi”. Tekanan terhadap Bank Sentral untuk menerapkan kebijakan moneter ketat meningkat. Bagaimana Bank Sentral akan bereaksi?

BACA JUGA :  Kurikulum Darurat, Solusi Bagi Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Bank Sentral seperti dalam teori, harus melaksanakan kebijakan moneter yang
hati-hati. Tidak melakukan kebijakan yang sembrono dalam menetapkan
tingkat suku bunga acuan, agar perekonomian dan pasar finansial stabil. Kebijakan tersebut merupakan persyaratan untuk pertumbuhan ekonomi yang bebas dari ketegangan.

Bank Bank Sentral terbesar di dunia percaya tidak ada hambatan berarti dan
semuanya berada di bawah kontrol mereka. Oleh karena itu mereka tetap
menekan tingkat suku bunga acuan yang rendah. Setiap hari memompa dana
segar ke bank-bank komersial dengan cara membeli surat utang negara dan
surat utang lainnya.

Di rekening bank-bank komersial yang ada di bank sentral Amerika the Fed ada
3,8 triliun dollar. Sedangkan di bank sentral Eropa tercatat ada 4,3 trilliun Euro dimiliki bank-bank komersial.

Kebijakan moneter yang ultra ekspansif

Patut dipertanyakan, apakah kebijakan moneter yang ultra ekspansif masih
dapat bertahan lama. Karena sektor industri sedang booming dan tidak seperti yang diharapkan, tingkat inflasi meningkat cepat. Tingkat inflasi di AS pada April meningkat menjadi 4,2%. Sedangkan di zona Euro memang lebih rendah, yaitu 1,6 %. Tapi trennya akan terus meningkat.

Pertanyaannya adalah : apakah Bank Sentral dapat dan ingin mengerem perkembangan ini tepat pada waktunya, agar tingkat inflasi tidak melampaui batas yang ditetapkan, jika tidak akan dapat menimbulkan gerak spiral tingkat
kenaikan penghasilan dan kenaikan harga-harga.

Di AS, bos the Fed Jeremi Powel membiarkan perekonomian memanas, agar dapat tercipta lapangan kerja bagi mereka yang membutuhkannya. Untuk
mencapai tujuan tersebut the Fed membiarkan tingkat inflasi di atas 2% seperti yang telah dipatok. Strategi kebijakan moneternya adalah tingkat inflasi sebesar 2% dalam beberapa tahun. Beberapa tahun belakangan, tingkat inflasi rata-rata di bawah 2%.

Dalam pandangan pengelola kebijakan moneter di Washington kenaikan inflasi
saat ini hanya bersifat temporer dan tahun depan akan menurun kembali.
Dengan begitu mereka punya cukup waktu untuk menjalankan kebijakan moneter yang ketat. Para pakar keuangan memperkirakan the Fed akan
memberikan sinyal kepada pasar keuangan pada musim gugur mendatang, bahwa awal 2022 akan kembali melakukan kebijakan pembelian surat utang bulanan sebesar 120 miliar dollar. Sampai tingkat pembelian surat utang mencapai nol perlu waktu sekitar satu tahun. Baru setelah itu the Fed, tergantung dari perkembangan situasi, akan memulai secara hati-hati untuk menaikan tingkat suku bunga acuan. Di Indonesia para ekonom atau media massa menyebutnya sebagai Taper Tantrum, ketika bank sentral mulai menerapkan kebijakan moneter ketat, tanpa mengumumkan kapan waktunya. Yang menentukan adalah tingkat suku bunga untuk deposito bank-bank komersial yang disimpan di bank sentral AS, the Fed. Saat ini besarnya 0,1%. Nilai ini merupakan batas bawah untuk suku bunga pasar antar bank komersial ,yang merupakan tujuan dari the Fed. Selanjutnya setiap bank komersial menetapkan bunga pinjaman antar bank komersial sedikitnya sebesar suku bunga yang mereka peroleh dari the Fed atas depositonya di sana.

BACA JUGA :  Polri Tindak Tegas Kartel yang Memainkan Harga Pasar

Jika biaya pinjaman uang antar bank meningkat, maka otomatis bunga kredit
pinjaman ke pelanggan bank komersial akan meningkat juga. Hal itu akan
mengerem permintaan akan kredit, peredaran uang dan inflasi.

Langkah terakhir kebijakan moneter ketat adalah jika the Fed memperkecil
neracanya, jika utang pemerintah dilunasi dan tidak melakukan lagi pembelian surat utang.

Bank Sentral Eropa, ECB juga mengikuti kebijakan yang sama seperti the Fed.
Saat ini suku bunga acuan ECB minus 0,5%. Tidak seperti kebijakan the Fed,
kebijakan ECB, jika memang dilakukan untuk mengecilkan neracanya, masih
akan berlangsung lama. Arus masuk dana dari hasil pelunasan utang pemerintah masih memerlukan waktu lama, walaupun kenaikan tingkat suku
bunga acuan. Alasannya adalah, kekhawatiran atas ongkos pembiayaan negara-negara Eropa Selatan yang memiliki tingkat utang sangat tinggi, jika ECB kembali memberikan pinjaman ke negara-negara tersebut.

Apakah langkah untuk meninggalkan kebijakan moneter ultra ekspansif dapat
diterapkan dengan mudah, seperti yang dibayangkan ECB, tergantung dari perkembangan tingkat inflasi. Jika terus meningkat, maka ECB dihadapkan pada pilihan yang sulit: membiarkannya terjadi tanpa berbuat sesuatu, berarti
daya beli mata uang Euro akan menurun atau mereka mengambil keputusan dengan menginjak rem lebih cepat daripada yang direncanakan.

Antara Skylla dan Charybdis

Jika mereka menunda-nunda untuk mengambil keputusan menghentikan
pembelian surat utang negara, bisa terjadi akhirnya penghentian itu dilakukan mendadak, atau menjual surat utang yang dimilikinya dan sekaligus menaikkan suku bunga deposito bank-bank komersial untuk mencegah krisis moneter.

Di pasar-pasar keuangan kemungkinan akan terjadi kekacauan. Negara-negara,
perusahaan, pembeli properti dan para debitur akan dihadapkan pada ongkos
pembiayaan yang meningkat cepat. Selanjutnya akan berlangsung proses insolvensi alias gagal bayar, lelang paksa, resesi dan krisis perbankan yang sangat parah adalah dampaknya.

Para pakar ekonomi Indonesia, baik di lembaga pemerintah, bank sentral
maupun di berbagai perguruan tinggi dan ekonom tokoh oposisi mohon dapat
bekerjasama bahu membahu menghadapai krisis hebat yang akan dihadapi negeri ini. Berbagai data perkembangan ekonomi nasional belum dilampirkan agar tulisan ini segera rampung. Koreksi dan kritik sangat membantu.

Penulis:
Suchjar Effendi