Membangun Masyarakat yang Berpikir dan Bertindak Masuk Akal dalam Perspektif Karlina Supelli
Karlina Supelli

Nasional, mediakita.co – Di negara kita terlalu sering kita menemukan masyarakat yang berpikir dan bertindak tidak masuk akal. Sebut saja misalnya penolakan terhadap jenazah covid 19 yang banyak terjadi di mana – mana. Orang dengan lantang menolak janazah korban covid 19hanya karena alasan sepele yang tidak masuk akal. Ada pula penipuan – penipuan yang berkedok penggandaan uang dengan keuntungan yang besar. Belum lagi dengan takhayul – takhayul yang banyak berkembang dalam masyarakat kita yang seringkali dipercayai dan diperjuangkan.

Seiring dengan waktu dan perkembangan tehnologi khususnya di era digital bukannya  hal itu berkurang malainkan semakin bertambah dan semakin cepat. Dengan era digital sekarang telah menimbulkan budaya komentar yang begitu cepat dan masif. Orang dengan mudah bisa berkomentar apa saja, memaki dan menyakiti orang lain. Demikian pula dengan banyaknya berita – berita bohong yang tak sedikit memunculkan kekerasan verbal hingga non verbal dalam masyarakat kita.

Mencermati hal ini seorang pakar filsafat dan dan astronom Karlina Supelli mengungkap bahwa gejala ini muncul sebagai gejala dari gagalnya Pendidikan kita. Karlina menyebut bahwa Pendidikan kita belum berhasil memberikan melatih implikasi etik dari ilmu – ilmu yang dipelajari. Artinya bahwa Pendidikan kita belum berhasil membangun insan yang mampu berpikir objektif.

‘Kegagalan Pendidikan kita adalah karena persis di dalam kurikulum kita, dan sistem pendidikan belum berhasil melatih implikasi etik dari ilmu’ ungkap Karlina

Karlina menyampaikan bahwa cara berpikir yang kita pelajari dari berbagai ilmu baik SD – SMP tidak semua orang ingin menjadi ilmuan untuk mecari objektifitas dan intersubjektifitas.

‘Cara berpikir dari berbagai ilmu yang kita pelajari dari SD – SMP membuat tidak semua orang ingin menjadi ilmuan sampai perguruan tinggi padahal itu menarik garis bahwa saya belajar ilmu ini dan ilmu itu berarti saya mencari subjektifitas dan intersubjektifitas dalam komunitas dalam komunikasi yang sehat’ tutur Karlina

Padahal menurutnya implikasi etis itu akan menolong seseorang memiliki cara berpikir dan melihat bahwa di luar dirinya ada kebenaran terlepas dari perasaan suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok.

‘Implikasi etis dari cara berpikir ini memberikan kesanggupan untuk melihat bahwa di luar diri kita itu ada kebenaran, terlepas dari aku suka atau tidak suka, terlepas dari cocok atau tidak cocok dengan pendirianku atau pendirian kelompokku’ ucap karlina lagi.

BACA JUGA :  Digadang Maju Pilkada Solo, Gibran Putra Jokowi Daftar Jadi Kader PDIP

Menurut Karlina Penerapan implikasi etis ilmu dalam pendidikan akan menolong seseorang untuk melihat dirinya sebagai warga negara yang bisa melihat realitas di luar dirinya.

‘Pendidikan yang ditarik dari objektif sains dan etis praktis terapan dari sains ini akan membuat siswa dan mahasiswa dapat melihat bahwa saya ini warga negara dan warga negara dilatih untuk tidak melihat kebenaran berdasarkan apa yang ia yakini, apa yang diyakini oleh kelompoknya dan menguntungkan dirinya sendiri. Warga negara harus dilatih secara konkrit untuk mengakui realitas di luar dirinya’ ucap karlina lagi

Karena itu menurut Karlina Pendidikan kewarganegaraan tidak bisa lepas dari ilmu fisika, tidak pelajaran matematika, tidak terlepas dari biologi, sastra dan sebagainya. Pendidikan itu harus menyadarkan masyarakat bahwa di hadapannya itu terhampar Indonesia dengan masyarakat yang majemuk, yang kaya dalam keragaman, etnis, suku dan agama.

Karlina menegaskan bahwa buruknya perilaku masyarakat kita merupakan gejala nyata dari gagalnya  pendidikan ilmu – ilmu. Hal ini terjadi menurut Karlina karena dalam Pendidikan kita ilmu – ilmu diajarkan hanya sebagai alat, sebagai sarana untuk mencapai tujuan dan melupakan bahwa ilmu itu punya tujuan praktis etis yang akan membuat seseorang sanggup untuk melihat realitas sehingga mampu memilah – milah mana kata saya dan mana yang betul – betul obyektif.

Karlina selanjutnya menjelaskan bahwa kemampuan memilah – milih itu harus dilatih melalui pendidikan.

‘Kita memerlukan latihan untuk memilih dan memilah itu, tanpa melatih kesanggupan berpikir objektif, tanpa melatih kebiasaan membedakan mana urusan dunia dan mana urusan surga kehidupan publik kita ini semberawut. Coba saja lihat apa yang menyangkut agama itu diklaim sebagai urusan Tuhan dan karena itu orang boleh melakukan apa saja, kalau untuk sembayang orang boleh membuat jalanan macet sehingga orang terlambat untuk bekerja, kalau untuk Tuhan boleh menyerang kelompok – kelompok yang dianggap berbeda, kalau orang beda orientasi boleh dinista, seolah – olah kita ini sama tarafnya dengan Tuhan dan tahu apa yang Tuhan mau’ jelas Karlina.

Karlina menyampaikan bahwa jalan untuk melatih diri agar berpikir dan betindak masuk akal sehari – hari ini adalah memilah – memilih, memeriksa batin, memeriksa pikiran, memeriksa hasrat, memeriksa motivasi dan implikasinya apa dan tugas itu adalah tugas Pendidikan.

BACA JUGA :  Update Corona 29 Maret : Bertambah 130, Total Positif Corona Jadi 1.285 Orang. Sebanyak 5.816 Orang Telah Mendaftar Relawan

‘Adakah jalan untuk melatih pemikiran masuk akal ini sehari – hari? Tentu saja ada dan tidak perlu menjadi ilmuwan atau filsuf ilmu. Caranya adalah melatih untuk memilah – memilih, memeriksa batin, memeriksa pikiran. Memeriksa hasrat. Hasrat saya ini apa yang paling mempengaruhi, motivasi saya ini apa dan implikasinya pada perilaku kita apa, ini tugas pendidikan’ tegas Karlina.

Karlina juga menyampaikan bahwa bagi orang yang sungguh terlatih batinnya, cara berpikirnya, hasratnya, spritualitasnya terlatih dia dengan tajam dan jeli bisa mengenali bahwa iblis itu cerdik, yang jahat itu cerdik. Dia menampakkan diri ibarat malaikat yang saleh dan orang yang beragama itu tidak anti nalar.

‘Bagi orang yang sungguh terlatih batinnya. Cara berpikirnya, hasratnya, spiritualitasnya terlatih dia dengan tajan dan jeli itu bisa mengenali bahwa iblis itu cerdik, yang jahat itu cerdik, dia menampilkan diri ibarat malaikat yang saleh. Jadi orang beragama dan beriman itu cerdik – cerdiklah membedakan. Dan kita orang yang beragama itu tidak anti nalar, persis nalar berpikir akal sehat itu melatih dia untuk membedakan yang saleh, nanti dulu siapa yang menggerakkan dia setan atau malaikat’ tutur Karlina.

‘Tanpa Latihan ragawi kita pelan – pelan membangun republik slogan, republik komentar. Warga pintar ngomong mengandalkan mulut  berkomentar tapi begitu eksekusi, begitu harus bertindak tidak bisa’ Karlina Supeli.

Artikel ini disadur dari ceramah Kalina Supeli yang berjudul, ‘ Berpikir dan Bertindak Masuk Akal’ dari Channel Youtube Kabar Sejuk.

Karlina Rohima Supelli  lahir di Jakarta15 Januari 1958; adalah seorang filsuf dan salah satu astronomer perempuan pertama dari Indonesia.

Karlina menempuh pendidikan sarjananya di bidang astronomiITB. Ia memiliki minat yang dalam terhadap fisika, matematika dan metafisika. Selain itu ia juga memiliki perhatian akan isu-isu kemanusiaan. Pada 19 Februari 1998, ia turut berdemonstrasi bersama Aktivis Suara Ibu Peduli menuntut turunnya harga susu dan menjadi sorotan media ketika ia bersama kedua rekannya, Gadis Arivia dan Wilarsih, didakwa dengan tuduhan melanggar Pasal 510 KUHP.[1]

Karier akademiknya selanjutnya dicurahkan untuk Ilmu Filsafat. Karlina memperolah gelar Doktor dari Universitas Indonesia dengan Disertasi: Wajah-Wajah Alam Semesta, Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif di Universitas Indonesia (UI)Prof.Dr.Ing BJ Habibie merupakan salah satu promotor disertasinya.