Rampak Sarinah Tulungagung berkesenian Jawa

BUDAYA, mediakita.co – Eva Sundari, pendiri dan pembina Rampak Sarinah menyambut baik kegiatan Rampak Sarinah Tulungagung di bidang seni budaya. Di masa revolusi teknologi 4.0 yang serba robotisasi, keunggulan bangsa tergantung kreatifitas masyarakat. “Semakin kreatif masyarakat, semakin inovatif, dan jiwa seni memicu kreatiitas ” kata Eva Sundari.

Sejalan dengan strategi Trisakti berkepribadian dalam kebudayaan, Rampak Sarinah Tulungagung menyelenggarakan latihan menari dan kerawitan untuk masyarakat umum terutama para ibu dan gadis Tulungagung. Latihan menari Jawa dilaksanakan setiap Hari Minggu pukul 10 pagi di Sekretariat Rampak Sarinah Jalan Botoran Barat gang 2 no. 4 Tulungagung.

Hingga saat ini latihan menari diikuti oleh 24 peserta terdiri anggota Rampak Sarinah dan masyarakat sekitar. Untuk kali ini mereka berlatih menari Gambyong Mari Kangen. “Peserta amat antusias, beberapa bahkan datang dengan pakain kain dan bersanggul layaknya sudah tampil sungguhan,” kata Astinawati yang menjabat wakil ketua Rampak Sarinah Tulungagung sambil tertawa.

Untuk berlatih kerawitan, dilaksanakan per group yang terdiri 12 orang. Jika peserta bertambah akan dibuatkan group baru. Latihan kerawitan dilaksanakan setiap Hari Jumat Pukul 13.00 WIB bertempat di Joglo Batangsaren, Tulungagung.

BACA JUGA :  Nyi Roro Kidul dan Nasib Maritim Kita

Rampak Sarinah berharap dengan latihan berkesenian Jawa, para ibu dan gadis menjadi semakin bersemangat berkarya. Area karya di tingkat WIRAGA (Rumah Tangga dan komunitas sekitarnya), WIRAMA (berjalan seiring seirama dengan kehendak Alloh SWT) serta WIRASA (dilakukan penuh rasa tanggungjawab, syukur n ikhlas).

Salah satu peserta, Rohmah Wasma Indah, membagi pengalamannya bahwa dia merasakan ketenangan dan kebahagiaan setelah ikut latihan menari. “Kata riset, menari yang ada polanya adalah berdampak kecerdasan otak akibat hormon endorphin yang bikin happy dipacu,” jelas Rohmah menjelaskan alasan ikut latihan.

Sementara Liez Andrian, peserta kerawitan memberikan alasan bahwa gamelan itu seperti orkestra, beda alat musik tapi dimainkan bersamaan tapi menghasilkan harmoni. “Ini kan seperti gotong royong, beda-beda peran tapi satu tujuan yang sama, kemakmuran misalnya,” ungkap Liez Andrian.

Tulungagung, 21/2/21