STIT Muhammadiah Bojonegoro Gelar Diskusi Nasional: Mewujudkan Generasi Cerdas dengan Membaca DNA Darah
STIT Muhammadiyah Bojonegoro

BOJONEGORO, mediakita.coSTIT Muhammadiyah Bojonegoro gelar Diskusi Nasional bertajuk, ‘Mewujudkan Generasi Cerdas dengan Membaca DNA Darah melalui Pendidikan Pranikah. Diskusi tersebut digelar secara online melaui aplikasi telegram dan diikuti 199 peserta.

Hadir sebagai narasumber adalah Eva Dipanti Tumba, Pemegang Sertificated ABO  Word Jepang, Pemerhati Anak dan Konsultan Timnas Sepak Bola Indonesia dengan Moderator Ismi Choiron Annisa, M.Pd, Dosen STIT Muhammadiyah Bojonegoro.

Eva Dipanti dalam paparannya menyampaikan bahwa hal yang terpenting dalam hidup ini adalah mengenal diri kita sendiri sebelum mengenal orang lain dan hal itu dapat  dilakukan dengan mengetahui karakteristik dari setiap golongan darah.

Eva menyampaikan pengalamannya dalam menyebarkan pengetahuan tentang golongan darah bahwa banyak orang merasa telah menghabiskan waktunya yang sia – sia bersama pasangannya karena tidak mengerti tentang kecenderungan dari pasangan mereka.

Nah golongan darah menurut Eva adalahacara yang cukup sederhana untuk memahami kecenderungan seseorang khususnya pasangan kita sehingga satu sama lain saling membangun dan menolong.

Menurut Eva setiap golongan darah memiliki kecenderungan masing – masing yang berbeda satu sama lain. Hal itulah yang perlu dipahami oleh semua orang. Karena itu menurut Eva dalam membangun keluarga yang kuat perlu direncanakan dengan baik. Kenyataannya, banyak orang hanya sekedar menikah saja sehingga menghadapi masalah yang cukup serius dalam perjalanannya. Tak hanya itu, tetapi juga menghasilkan generasi yang bermasalah.

Padahal menurut Eva memahami pasangan itu sebenarnya simple saja jika dilihat dari perspektif golongan darah. Allah menurut Eva telah menyediakan karunia itu dalam diri setiap pribadi melalui DNA kita yang harus digunakan dengan baik. Segala potensi dan asset ada dalam DNA kita namun sayangnya tidak semua orang memahami itu.

‘Darah itu adalah nyawa setiap makluk, dalam darah ada air. Darah dan air  dalam tubuh tak dapat dipisah. Jika dilihat di bawah mikroskop antigen itu tampak seperti antena – antena listrik. Antena – antenna listrik tersebut yang akan merespon setiap informasi yang masuk  di dalam diri kita. Antigen tersebut dalam setiap organ persentasenya berbeda seperti lambung, saliva (air liur), reproduksi, otak, dll. Demikian pula pada setiap golongan darah berbeda – beda sehingga berbeda pula merespon informasi meski informasi yang di dapat sama’ jelas Eva.

Golongan darah O misalnya dominan dengan otak kanan yang cenderung bertindak dulu baru berpikir. Berbeda dengan golongan darah A yang cenderung dengan otak kiri yang banyak berpikir sebelum bertindak. Bisa dibayangkan jika kedua golongan darah ini dipersatukan dalam satu rumah tangga, terbayang apa yang akan terjadi.

Eva yang bergolongan darah B dan suaminya bergolongan darah O menyampaikan bahwa dengan mengetahui dan mengerti golongan darah serta kecenderungannya akan membantu setiap pasangan mempersiapkan generasi (anak – anak) mereka dengan baik. Mengetahui golongan darah sendiri dan pasangan akan menolong kita mengerti dan mengetahui anak seperti apa yang kita akan peroleh berikut cara mendidiknya.

Eva juga menyampaikan bahwa mengetahui maping golongan darah suatu bangsa akan sangat membantu pola – pola seperti apa yang cocok untuk pengembangan SDM dari bangsa tersebut. Bahkan menurut Eva mengetahui golongan darah seseorang atau suatu bangsa kita bisa mengerti bagaimana cara makannya, cara berintegrasinya dan cara mengambil keputusan.

Tak banyak hal yang dapat disempaikan Eva dalam kesempatan tersebut karena waktu yang terbatas namun disambut sangat antusias dari para peserta yang sebagian besar guru dan calon guru serta Ibu Rumah Tangga.

Hadir pula Piter Randan Bua, Penulis Buku yang belakangan fokus mengembangkan kepemimpinan dalam perspekstif golongan darah. Menurut pria bergolongan darah B tersebut bahwa banyak masalah dan konflik – konflik dalam kepemimpinan dapat dicegah dan diselesaikan dengan hanya mengetahui golongan darah dan kecenderungannya dari orang memimpin atau pun dipimpim. Piter juga menyampaikan bahwa golongan darah dapat digunakan sebagai pendekatan menempatkan orang pada tempat dan pekerjaan yang tepat.

Ismi sebagai moderator dalam diskusi tersebut memberikan apresiasi pada narasumber dan peserta yang berpartisipasi dalam diskusi tersebut sembari berharap ilmu tentang golongan darah tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari.

‘Saya berharap ilmu ini bisa anda aplikasikan dalam kehidupan sehari – hari, terutama bagi anda yang belum menikah, bisa nih ya kira – kira kayak gimana pasangannya’ tutup Ismi.