Jejak Sejarah : Pangeran Purbaya “Banteng Mataram” di Pemalang Sejarah : Babad Tanah Pemalang
oleh : Bambang Mugiarto

Bagian 1

Tertulis, tahun 1676. Di dalam buku tua yang dipegangnya, tahun itu ia tulis setahun yang lalu.  “Ini hari terakhir, sudah dipenghujung tahun. Dan besok telah tiba tahun 1676”, katanya dalam hati. Pangeran Purbaya nampak menghela nafas panjang.

Dari jauh, ia mendengar ada tangisan bayi.  Selintas pandangan, suara tangisan itu menghilang. Tapi dalam waktu yang tak lama, tangisan itu kembali terdengar seperti meratap-ratap. Setelah ketiga kali tangisan bayi itu bertalu digendang telinganya, ia memalingkan kelopak telinganya kekanan, tapi kedua bola matanya tetap terpaku lurus dengan badannya.

Sebab sore tadi, ia tidak melihat ada rumah satu pun disekitar makam itu. Tak ada jalan, kecuali hanya pematang sawah, jalan setapak satu-satunya yang bisa ia gunakan dari tempat Nyi Widuri untuk ke Makam Ki Sembung Yuda. “Jadi, suara tangis bayi apakah yang kudengar ini ?”, tanyanya dalam hati. Belum usai ia bergumam, suara itu kembali menghilang, hilang tertelan desir suara angin.

Beberapa lama kemudian, ia mendengar suara tangisan lain…

Kali ini, ia mendengar suara tangis seorang perempuan. Sangat lirih dan juga jauh. Seperti suara yang menyayat dengan nafas yang terpenggal-penggal.  Ia bahkan seperti turut bisa merasakan desah nafasnya yang tersendat, dilepas, terisak, dilepas, begitu seterusnya. Suara letih, sebagaimana ia ketahui, sebagai suara-suara orang yang mendekati ajalnya. Tapi suara itu, juga kembali menghilang. Kali ini, suara tangisan itu hanya terdengar sekali saja.

Setelah itu, Pangeran Purbaya hanya mendengar suara-suara daun yang saling bersentuahan tertiup angin. Sesekali, ada suara daun yang jatuh. Daun-daun yang jatuh dari dua batang pohon yang berdiri kokoh disebelah barat makam Ki Sembung Yuda. Dengan kesunyiannya, seringkali ia mendengar dengan jelas suara daun-daun itu membentur permukaan tanah.

Suara daun-daun itu seibarat tengah mengucapkan selamat tinggal kepada ranting dan dahan-dahan yang telah ia tinggalkan, dan mendahuluinya. Dalam pejaman matanya, pikiran Pangeran Purbaya kemudian menerawang jauh. Terseret suara angin yang melesat  diantara daun-daun yang terlepas dari batang rantingnya.

Ia jadi teringat, kemarin lalu, setibanya di Kendal ; bahwa Kesultanan Cirebon telah mengetahui rencana kedatangannya. Menurut seorang prajurit yang disuruh menjadi sisik melik, Sultan Girilaya bahkan telah mengutus seorang panglima perang terbaiknya, Paselingsingan ;  untuk menghalau perjalanannya.

Purbaya berfikir, paling lama besok malam, Panembahan Senopati akan mengetahuinya. Karena, salah seorang prajurit Mataram yang ditugaskan menjadi sisik melik, tengah dalam perjalanan kembali ke Mataram untuk menyampaikan berita tersebut. “Andaikan itu benar, maka dibumi Pemalang inilah, semua akan terjadi,” desahnya dalam hati.

Menjelang tengah hari, seorang prajurit yang ditugaskan berjaga diperbatasan memberi laporan. Mereka telah melihat sebuah pasukan Kesultanan Cirebon sedang bergerak dari arah barat. Tak jauh dari perbatasan Pemalang. Mendengar berita itu, Purbaya memerintahkan pasukannya untuk berkemas. “ Kita ke sana, keselatan. Kita tunggu di hutan jati,” tegasnya, sambil menunjukan jarinya.

Sebelum pergi, Pangeran Purbaya menghampiri makam Ki Sembung Yuda. Menghadap ke barat, ditengah pusara, ia berjongkok sambil berkomat kamit.

Diambilnya sebutir tanah sambil berucap, “ Nyuwun Pangestu ki Ageng, saya hanya seorang prajurit yang melaksanakan titah raja. Ijinkan bumi pemalang ini sebagai kesaksian, bahwa hidup mati seorang Purbaya akan ditentukan disini, di bumi yang engkau rengkuh dan engkau reksani,” katanya dengan suara tidak terlalu keras , tapi terdengar dengan jelas oleh semua pengikutnya yang berjajar, jongkok dibelakangnya.

Ia mengambil sebutir tanah, lalu dilempar ditengah-tengah pusara Ki Ageng Sembung Yuda. Butiran tanah itu jatuh dianatara bunga bunga mawar yang ia taburkan kemarin sore. Taburan Bungan Mawar Merah putih itu masih keliatan segar. Baunya, pun masih terasa menyengat dihidung. Wanginya menusuk dan menerabas kumis Purbaya yang tebal melintang diatas bibirnya.

Penuturan Purbaya didepan pusara Ki Ageng Sembung Yuda itu keluar dari mulut hatinya tanpa alasan. Ia masih terngiang pesan kakeknya disaat Purbaya tengah dirundung duka. Saat ia baru kehilangan orang yang paling penting dalam hidupnya, Roro Rembayung, ibu tercintanya. Peristiwa yang tak akan pernah hilang dari ingatannya. Sebuah kematian yang dramatis dan tak pernah ia bayangkan, dan menjadi simbol kematian seorang wanita yang teguh memegang janjinya.

Demi cintanya, demi masa depan anak semata wayangnya, demi meluruskan trah sejarah asal-usul darah yang mengalir ditubuhnya, dia rela membayar dengan nyawanya. Sebuah harga yang sangat mahal. Harga yang tidak bisa diukur dengan apapun. Tapi itulah kenyataan yang telah ia temukan dan terima. Kenyataan yang harus ia bayar demi menjawab siapa sebenarnya ayah kandungnya.

Kala itu, ia masih ingat ketika ibunya memanggilnya dengan nama Jaka Umbaran.

Sekembalinya  dari Kesultanan Mataram, ia meminta ibunya untuk menyarungkan pusaka ligan. Itu pesan Kanjeng Panembahan Senopati, yang dititipkan kepadanya. Menurut Sultan, itu syarat untuk menjawab siapa sebenarnya dirinya. Jika pusaka itu berhasil dimasukan dalam kerangkanya, berarti benar ia purtanya. Benar bahwa ia sejatinya adalah seorang Pangeran,  Putra dari Raden Danang Sutawijaya, Raja Mataram  saat ini, yang bergelar Panembahan Senopati.

Mendengar permintaan anaknya, Roro Rembayung bergeming. Kedua matanya berlinang airmata. Tatapanya nampak melangut kosong. Seketika itu, wajahnya pucat pasi. Jari-jari tangannya bergetar, mengisyaratkan sedang meredam kata hatinya yang tak sanggup terucapkan.

Dengan mimik wajah gulana, Rara Rembayung lalu mengajaknya pergi. Pergi ke dalam Hutan. Disebuah telaga, Roro Rembayung mengambil air untuk bersuci. Setelah itu, masih dengan raut muka yang menyimpan sejuta bahasa, Rara Rembayung menyampaikan pesan. Ia tak menyangka, itulah pesan terakhir yang ia dangar dari ibunya.

“Ngger anakku, Jaka Umbaran”, ingat Purbaya mendengar ibunya tiba-tiba berucap dengan suara serak dan bergetar.

“Sebelum pusaka ligan kusarungkan, ada satu permintaan kepadamu. Kelak, apabila engkau telah diakui anak dan telah mendapatkan ganjaran dari Sutawijaya, Tolong, jangan sampai engkau pernah lupakan pepunden ibumu ini”, pintanya. Permintaan itu disampaikan karena Roro Rembayung sadar dirinya hanya seorang wanita biasa, wanita dari desa Giring, wanita yang bukan dari trah keturunan raja.

“ Iya ibu”

“Baiklah”, terdiam sesaat, “ Sekarang jadilah saksi atas janjimu itu,” tukas Rara Rembayung sambil mengangkat pusaka ligan. Dan, diluar dugaan , sang ibu justru menghujamkan pusakanya ke dadanya sendiri. Saat itu, ia teringat betul ketika mencoba menghalau dengan mloncat dan menubruk ibunya. Tapi semua sudah terlambat, keris ligan itu sudah menancab di dada Rara Rembayung, hingga tewas seketika. Kematian ibunya, Rara Rembayung, menjadi saksi dan membayar lunas untuk memenuhi janjinya pada Kanjeng Panembahan Senopati, Suaminya.

Usai memakamkannya jasad ibunya, ia tidak langsung menghadap Panembahan Senopati. Hatinya yang rapuh karena ditinggal ibunya dengan cara tragis. Purbaya merasa bersalah, semua ini terjadi karena dirinya. Disaat itulah, ia memilih mencurahkan hatinya kepada kakeknya, Ki Ageng Mangir. Setelah mendengar apa yang ia diceritakan,  kakeknya berujar, “Ketiwasan cucuku. Kakek tau perasaanmu. Tapi ketahuilah, jodoh dan pati seseorang, semua sudah menjadi titahing Gusti kang Maha Agung. Tak usah engkau sesali dan ratapi apa yang telah terjadi”.

“ Apa yang dilakukan ibumu, semata-mata demi cintanya kepadamu,” ungkapnya, lirih dan pelan. Setelah mngatakan itu, kakek Mangir berusaha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan berpegangan ujung meja. Usianya yang tergolong uzur, nampak bergetar saat menyangga beban badannya saat berdiri. Didepan jendela, kakek berhenti. Dibuka ke dua jendela rumah tua itu. Suara engselnya mengeluarkan bunyi seperti suara tangisan.

“ Ibumu telah memberi pelajaran, bahwa untuk menjadi manusia yang terhormat, manusia pinunggul, maka pantang mengingkari janjinya. Walaupun harus dibayar dengan nyawa sekalipun”, jelasnya dengan pandangan mata masih ke arah luar jendela.

BACA JUGA :  Makam Keramat Desa Kaso dan Legenda "Mbah Kramat Jati", Pemalang

Dengan penuh khidmat, ia mendengarkan apa yang mau dikatakan kakeknya. “ Maka jangan kau sia-siakan pengorbanan ibumu”.

Kakek membalikan badan, matanya menatap tajam dengan wajah yang bersungguh-sungguh. “ Sekarang pergilah ke Mataram dan jadilah anak yang berguna bagi orang tuamu, orang lain, dan berguna bagi kerajaan agar arwah ibumu tenang di alam sana,” pintanya, dengan nada suara sedikit membentak dan jari menuding ke wajahnya.

Diatas, seekor burung terbang dari pohon beringin samping makam Ki Ageng Sembung Yuda. Sayapnya mengelepak, meretas untaian dedaunan. Purbaya sedikit terperanjat. Ia bergegas berdiri sesaat setelah  bunyi burung terbang itu menghentikan ingatannya yang sedang berselancar ke masa lalu.

Dua orang prajurit agak menghampiri Pangeran Purbaya dengan  membawa kuda. Keduanya memberi hormat dengan menyembah, dan menyerahkan kudanya. Pangeran Purbaya menaiki kuda putih berkaki separoh warna hitam menuju ke arah selatan. Dengan ikat kepala hitam wulung, pusaka terselip dipinggangnya dan kumis tebal yang menghiasi wajahnya, ia  begitu berwibawa. Kesatria yang gagah berani.

Sejak memangku jabatan panglima perang, hampir semua musuhnya selalu berhasil ditekuk dan berlutut dihadapannya. Semua dipaksa menyerah tanpa syarat. Purbaya menjadi tokoh paling ditakuti lawan. Bukan saja sosok kesatrian dengan ilmu kanuragan yang tinggi dan tak terkalahkan, tapi juga karena memiliki taktik perang yang licin dan mematikan. Strategi perangnya sulit dibaca. Selalu memiliki keputusan dengan tiba-tiba yang mengejutkan. Keputusan yang membuat lawan terkecoh dan selalu mati langkah di medan laga. Pangeran Purbaya, Si Banteng Mataram -julukannya.

Di atas kuda, Pangeran Purbaya sesekali memacu kudanya. Pandangan matanya begitu tajam melihat ke depan. Bahkan ketika kudanya berlari melintasi ladang bersemak belukar, tubuhnya seolah terbang diatas alang-alang, menyelinap diantara pepohonan yang yang dilewatinya. Dibelakangnya, beberapa prajurit beriring mengikuti meninggalkan makam itu, bergerak ke arah selatan langsung menuju ke hutan jati.

Sejauh mata memandang ke selatan, hanya beberapa kilometer dari sekitar pantai cilincing, yang terlihat hanyalah pohon belaka, pohon belukar yang nampak diam seperti tak bergerak sama sekali. Tapi setalah dilihat dari jarak yang sedikit lebih dekat, ada kalanya pepohonan itu bergerak, hidup seperti lautan daun. Itulah hutan Jati Pemalang yang hendak dituju.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, Purbaya beserta pasukannya telah memasuki daerah hutan jati.Tiga orang prajurit dengan sigap memanjat dua pohon jati besar. Gerakannya begitu cepat dan lincah. Mirip seekor kera yang tengah melompat-lompat. Dari atas pohon, mereka seperti berusaha mencari sesuatu. Matanya jelalatan, memutar ke seluruh penjuru mata angin. Tiba-tiba mereka berhenti saat melihat sesuatu dari arah utara. Ada sesuatu yang terlihat berwarna hitam bergerombol bergerak keselatan. Setalah beberapa saat terus dipelototi dengan sesekali salah satu telapak tanganya diletakan diatas kedua matanya, ternyata gerombolan warna hitam itu adalah sebuah pasukan kerajaan yang sebagian nampak menunggang kuda berbulu kehitaman. Setalah benar-benar yakin apa yang dilihatnya, salah seorang prajurit memberi aba-aba dengan bersiul, dan tangan kirinya memberi isyarat kepada kedua prajurit lainnya untuk turun.

“Mereka telah datang Kanjeng Pangeran,” lapornya dengan sedikit terburu-buru dengan kedua telapak tangan menyembah diatas kepala. Kaki kirinya bersila untuk menyangga pantatnya, sementara kaki kanannya hanya ditekuk sekedar untuk menopang jongkokan badannya.

“ Baik, semua mundur ke belakang. Bersiaga ditempat-tempat yang strategis. Tidak usah menunjukan sikap yang reaktif. Tunjukan kepada mereka bahwa kalian tidak hirau dengan kedatangan mereka. Kita lihat saja apa maunya”, tegasnya dengan suara yang lantang memberi perintah.

Seketika itu, bala pasukan Purbaya dengan gerakan serempak langsung menyebar ke belakangnya. Beberapa puluh orang lainnya membagi dengan sendirinya ke bagian kanan dan ke kiri membujur ke depan seperti sedang membentuk pasukan sayap. Beberapa orang bahkan nampak mengambil posisi menjauh, diseluruh lini, sejauh 50 an meter.  Mereka sepertinya sudah tau apa yang menjadi kehendak sang pangeran. Di sisi bagian kanan dan kiri, masing-masing hanya nampak 5 orang. Sisanya memilih tempat yang agak jauh dibalik pohon, batu atau bahkan rerimbunan. Demikian halnya yang berada dibelakang, hanya beberapa orang saja yang menampakan diri. Semuanya bersikap biasa. Ada yang berdiri, ada yang duduk, ada pula yang mengurus kuda. Semua seperti tidak ingin menunjukan sikap kesiap-siagaan sebuah pasukan.

Tak lama berselang, terdengar suara salam khas sunda. “ Sampurasun, Assalamu’alaikum”, ucap salah seorang dari mereka. Tak jelas siapa yang mengatakan, tapi suara itu datang dari sebuah pasukan Kesultanan Cirebon.

“Wa’alaikumussalam”, jawab sang Pangeran Purbaya dengan cepat, diikuti beberapa orang prajurit yang berada disebelahnya. Ia langsung berdiri, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Sesaat setelah pria berkuda warna hitam itu turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Purbaya.

“Pangeran Purbaya ?” tanya, pria itu yang kalau dilihat dari pakainnya bisa dipastikan dialah pemimpinnya.

“Ki Paselingsingan ?”, tukas Pangeran Purbaya balik bertanya. Keduanya belum pernah bertemu, tapi mereka sudah saling dengar dan mengenal namanya. Bagi Paselingsingan, nama Purbaya sudah tidak asing lagi. Bukan semata karena ia seorang putra Sultan Hadiwijaya, Purbaya juga sangat dikenal sakti mandraguna, cerdas dan berbudi luhur diseantero nusantara. Bahkan ia dianggap sebagai benteng dan Banteng Mataram. Sebaliknya, bagi Purbaya, nama Paselingsingan baru diketahui setelah ia mendapat laporan dari sisik melik dari Mataram yang ditugaskan di wilayah perbatasan Kesultanan Cirebon. Menurut informasinya, Paselingsingan semula hanya seorang prajurit biasa yang tugas pokoknya menjaga pusaka. Namun karena kesaktiannya, setelah panglima perang Kesultanan Cirebon mangkat, ia diangkat sebagai penggantinya.

Setelah berbasa-basi, kedua kestria itu berjalan berdua, mencari tempat yang agak teduh. Ke arah utara, persis de bibir tanjakan jalan. Mereka memilih sebuah pohon jati di sebalah barat jalan. Dibawah pohon itu mereka nampak berbicara serius. Sementara para pengikutnya tidak membaur, mereka memilih mengambil tempat saling bersebarangan. Pasukan Mataram berada di sebalah timur jalan, sementara pasukan Cirebon berada di barat jalan. Meskipun masing-masing tidak menunjukan sikap yang bermusuhan, tapi kalau dilihat dari pemilihan tempatnya yang berbeda dan seolah saling berhadapan, maka itu pertanda bahwa masing-masing dari mereka menunjukan sikap yang kurang bersahabat.

“ Saya harus bertemu Kanjeng Sultan Girilaya”, kata Pangeran Purbaya setengah berteriak sambil berdiri dan menudingkan jarinya ke arah muka Paselingsingan.

“Saya hanya butuh penjelasam dari paduka Sultan Cirebon, mengapa sudah hampir 2 tahun tidak membayar upeti ke Mataram”, tegasnya dengan tatapan mata setengah melotot.

“Baiklah, kalau memang hanya itu, tujuan yang hendak dibawa kehadapan sultan, nanti saya sampaikan kepada sinuhun”. Jawab Paselingsingan tak kalah keras dan tegasnya.

“Tidak, itu akan jadi bertele-tele. Saya harus bertemu langsung agar tau apa alasan sebenarnya”

“ Saya mengerti Pangeran. Jika itu maksudnya, apa bedanya dengan saya yang hendak menyampaikan ?”

“ Jelas berbeda kisanak. Karena dengan begitu berarti akan butuh waktu lama lagi untuk mendapatkan jawaban”

“ Tidak, saya akan pastikan agar jawaban dari sinuhun dalam waktu yang secepatnya bisa sampai Mataram”

“Itu tidak mungkin”, tegas Purbaya membentak. Kali ini suaranya sudah benar-benar terdengar marah.

“Mungkin”

“Tidak”

“Mungkin”

“Tidak, sekali lagi tidak”, timpal Purbaya mengakhiri kata yang saling bersautan.

“Atau Pangeran punya rencana lain ?”

BACA JUGA :  Legenda Nyai Dewi Rantam Sari, Misteri Ratu Pantai Utara di Kerajaan Gaib Gunung Mendelem

“Maksud kisanak ?”

“ Pangeran mau menyerbu wilayah Kesultanan kami ?”

“Tidak. Itu bukan titah paduka. Saya hanya di utus untuk menanyakan upeti”, jawab Purbaya agak sedikit merendahkan suara.

“ Kalau benar begitu, maka cukup lewat saya”, diam sesaat.

Paselingsingan melanjutkan, “ Saya minta Pangeran kembai saja ke Mataram”, pinta Paselingsingan sambil menujukan jari ke arah timur.

Mendengar ucapan Paselingsingan yang bernada mengusir, Pangeran Purbaya nampak tersinggung. Dengan senyum sinis, ia mendekati Paselingsingan lebih dekat. Hanya berjarak sekitar sedepa tangan, dengan jari menuding ke arah dada Paselingsingan, Purbaya menegaskan sikapnya, “ Jangan coba-coba menghalangi kami, camkan itu !”. Perdebatan itu terus berlangsung. Sesekali mereka saling bentak, saling tunjuk, saling pelotot, namun tak jarang juga terdengar suara terkekeh, seperti suara tertawa yang sinis.

Sudah beberapa jam, perdebatan mereka tak berujung pangkal.

Rupanya, dihati mereka sudah diselimuti rasa saling curiga. Rupanya, Paselingsingan dan bahkan Kesultanan Cirebon curiga bahwa kedatangan Pangeran Purbaya tidak sekedar mau menagih upeti. Sebagai Panglima perang, kehadiran Purbaya dianggap sebagai ancaman. Menurut Paselingsingan, Sultan Girilaya dan penasehatnya sudah mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Dan karena itulah maka dia mendapat perintah untuk menghalau kedatangan Purbaya. Bagi Paselingsingan, Pangeran Purbaya harus berhenti hanya sampai Pemalang saja. Jika bisa diminta kembali ke Mataram, itu lebih baik. Tapi jika tidak, maka ia telah bersumpah untuk mempertaruhkan jiwa raganya. Demikian halnya bagi Pangeran Purbaya, tak ada seorangpun bisa menghentikan langkahnya. Bertemu dengan Sultan Girilaya, baginya adalah sudah menjadi keputusan wajibnya seiring dengan jatuhnya mandat Panembahan Senopati kepada dirinya. Hanya satu hal yang bisa menghentikan langkahnya, Maut !

Menjelang matahari terbenam, perselisihan diantara mereka sudah mulai menunjukan sikap yang saling bermusuhan. Tidak sekedar adu mulut saja, lebih dari itu, mereka mulai unjuk diri dengan mengeluarkan beberapa sikap yang tak lebih dari upaya unjuk ilmu kanuragan. Hal itu bisa dilihat ketika Pangeran Purbaya mengeluarkan kata sumpah serapah sambil membuka ikat kepalanya, lalu disabetkan ke pohon jati yang sebesar badan orang dewasa. Dengan seketika, pohon jati itu tumbang dengan suara menggelegar seperti bunyi petir. Sebaliknya, Paselingsingan menyambutnya dengan gejog bumi (menginjakan kaki keras-lkeras kebumi), spontan, bumi hutan jati itu menjadi bergoyang seperti gempa.

Menjelang matahari terbenam, aksi yang lebih mirip dengan sikap saling ejek itu, dengan berbagai cara masing-masing, tapi dengan unjuk ilmu seperti sebuah atraksi itu masih berlangsung. Peristiwa padu (adu mulut ), antara dua ksatria penjaga (raksa/reksa) kerajaan di Hutan Jati itu berlangsung sama-sama beraninya itu berlangsung alot dan tidak menemukan ujung pangkal. Unjuk kekuatan sebagai tindakan saling gertak pun tidak bisa mengahiri perselisihan mereka. Suatu ketika, sebelum akhirnya benar-benar harus bertempur, Pangeran Purbaya mengatakan sesanti, mbesuk rejaning jaman, desa iki diarani desa Paduraksa, katanya.

Eskok harinya, persis ketika matahari baru setinggi jidat orang dewasa, kedua kesatria berilmu tinggi itu telah saling berhadapan. Mereka sepertinya benar-benar telah mempersiapkan pertarungan itu lahir dan batin. Pangeran Purbaya menatap tajam ke arah Paselingsingan. Tatapannya sudah menunjukan sikap yang lebih marah.

“Tidak usah banyak bicara. Jika kau tetap bersikukuh menghalangi langkahku, maka akan aku penggal kepalamu”, kata purbaya mengingatkan.

“Wahai Pangeran Purbaya yang gagah berani. Saya ingatkan sekali lagi, sebaiknya kembali ke Mataram. Sebab jika paduka sang putra raja tetap tidak mendengar apa yang saya katakan, itu akan menjadi pertanda paling buruk bagi mataram”, jawabnya tak kalah gertak.

“Wahai para prajurit dari Mataram, saya perintahkan kalian untuk tetap berdiri di tempat masing-masing. Tidak usah ikut terlibat dalam pertarungan ini. Kalian lihat saja, siapa yang akan menyesali pertarungan ini”, katanya sambil mengacungkan tangannya ke atas langit.

“Mari, kita selesaikan persoalan ini dengan dalam pertarungan tunggal antara kita,” pinta Purbaya dengan wajah membengis.

“Baiklah, kepada bala prajuritku dari Kesultanan Giri Laya. Bersiaplah kalian hanya untuk menyaksikan saya akan mengirimkan Pangeran pewaris tahta Mataram ini ke alam penasaran sekarang juga”.

“Kalian semua”, berhenti sejenak, “Tidak usah ikut campur”, kata Paselingsingan balik mengumbar tantangan sambil menata kakinya dalam sebuah kuda-kuda yang kuat. Tangan kirinya menyilang didada, dengan telapak tangan membuka menghadap keatas.  Sementara tangan kanannya menyilang ke atas, tapak tangannya membuka keatas, dengan jempol ditekuk. Sambil terpejam, bibirnya bergerak membaca mantra.

Pangeran Purbaya yang berdiri hanya sekitar 10 depa tangan didepannya, hanya tersenyum sinis sambil sedikit bersiap dengan kuda-kuda kaki menyamping dan nampak sekedarnya. Dengan sikapnya, ia sengaja memancing emosi lawannya. Dan benar, Paselingsingan sangat marah melihat sikap lawan tandingnya meremehkan.

Paselingsingan mendahului menyerang dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan. Dari arah tangannya keluar gumpalan angin yang menderu dan melingkar-lingkar mengguncang seluruh pohon jati di depannya  dengan dahsyatnya. Namun Purbaya tak bergeming. Dengan senyumnya yang lagi-lagi bernada sinis, ia mengangkat ke duatanggannya sejajar dadanya. Kedua telapak tangannya membuka menghadap ke arah lawan, pesis di sekitar ketiaknya. Tak lama kemudian, kedua telapak tangannya di dorong ke arah lawan sambil melepaskan nafas kuat-kuat.

Dung…dusssss !

 Satu serangan balasan dilepaskan Purbaya. Entah ilmu apa, yang jelas dari tangannya keluar sinar berwarna biru seperti kilat dan mengeluarkan bunyi seperti petir. Menggelegar hingga diujung langit, ketika sinarnya berbenturan dengan sebuah titik serangan angin, ajian Paselingsingan itu. Di titik itu, ditengah-tengah jarak kedua kesatria itu bertanding, keluar asap tebal berwarna hitam.

busssss….

 Badan kedua kesatria itu bergetar mundur masing-masing satu langkah. Keduanya menunjukan wajah keheranan. Sesaat kemudian, keduanya berusaha memperbaiki kuda-kuda kakinya yang tadi sempat terhunyung. Paselingsingan kembali mengeluarkan serangan. Kali ini, serangannya diikuti dengan loncatan ke atas hampir setengah tinggi pohon jati. Dari tanggannya keluar sinar berwarna merah yang kilaunya juga membakar daun-daun kering yang terjatuh berserak di tanah.

Pangeran Purbaya yang berdiri hanya sekitar 10 depa tangan didepannya, hanya tersenyum sinis sambil sedikit bersiap dengan kuda-kuda kaki menyamping dan nampak sekedarnya. Dengan sikapnya, ia sengaja memancing emosi lawannya. Dan benar, Paselingsingan sangat marah melihat sikap lawan tandingnya meremehkan.

Paselingsingan mendahului menyerang dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan. Dari arah tangannya keluar gumpalan angin yang menderu dan melingkar-lingkar mengguncang seluruh pohon jati di depannya  dengan dahsyatnya. Namun Purbaya tak bergeming. Dengan senyumnya yang lagi-lagi bernada sinis, ia mengangkat ke duatanggannya sejajar dadanya. Kedua telapak tangannya membuka menghadap ke arah lawan, pesis di sekitar ketiaknya. Tak lama kemudian, kedua telapak tangannya di dorong ke arah lawan sambil melepaskan nafas kuat-kuat.

Dung…dusssss !

 Satu serangan balasan dilepaskan Purbaya. Entah ilmu apa, yang jelas dari tangannya keluar sinar berwarna biru seperti kilat dan mengeluarkan bunyi seperti petir. Menggelegar hingga diujung langit, ketika sinarnya berbenturan dengan sebuah titik serangan angin, ajian Paselingsingan itu. Di titik itu, ditengah-tengah jarak kedua kesatria itu bertanding, keluar asap tebal berwarna hitam.

busssss….

 Badan kedua kesatria itu bergetar mundur masing-masing satu langkah. Keduanya menunjukan wajah keheranan. Sesaat kemudian, keduanya berusaha memperbaiki kuda-kuda kakinya yang tadi sempat terhunyung. Paselingsingan kembali mengeluarkan serangan. Kali ini, serangannya diikuti dengan loncatan ke atas hampir setengah tinggi pohon jati. Dari tanggannya keluar sinar berwarna merah yang kilaunya juga membakar daun-daun kering yang terjatuh berserak di tanah.

Bersambung…