Bahasa Jawa Mengalahkan Bahasa Mancanegara
Bahasa Jawa Mengalahkan bahasa Mancanegara

mediakita.co — Dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tujuh unsur. Salah satu dari unsur tersebut adalah bahasa. Dengan bahasa, seseorang mampu berkomunikasi dengan lawan bicaranya secara mudah.

Ada banyak bahasa di dunia ini, seperti dikutip dari suaramerdeka.com, namun hanya beberapa bahasa ibu yang masih setia memiliki penutur. Bahasa Jawa adalah salah satunya. Hingga hari ini, sekitar 70 juta penutur di dunia masih melestarikan bahasa Jawa, mengalahkan penutur bahasa Perancis, Korea, dan Italia.

Bahasa Jawa memang memiliki kekayaan tersendiri. Antara lain tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa yang memberi batasan dengan siapa seseorang berbicara. Antara lain ngoko kasar dan ngoko alus untuk lawan bicara yang lebih muda atau sebaya; krama madya, krama inggil dan krama alus untuk lawan bicara yang lebih tua; dan bahasa bagongan yang biasa digunakan pada percakapan di keraton.

Selain itu bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri berkat aksara-nya. Pastinya pembaca sudah sangat mengenal aksara ini. Yakni ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-dha-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga. Konon aksara ini diciptakan oleh Prabu Ajisaka yang menjadi penguasa tanah Medang. Selain keduapuluh aksara itu, masih ada lagi aksara-aksara pelengkap seperti pasangan dan sandangan.

BACA JUGA :  Presiden Joko Widodo Kunjungi ‘Food Estate’ di Kabupaten Humbang Hasundutan

Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki syair dan pantun yang berbeda dengan syair dan pantun kebanyakan. Syair atau pantun ini biasa disebut dengan purwakanthi. Purwakanthi bisa juga berisikan petuah-petuah yang berguna bagi kehidupan.

Ada dua macam purwakanthi yaitu purwakanthi guru swara dan purwakanthi guru sastra. Purwakanthi guru swara adalah persamaan bunyi, sementara purwakanthi guru sastra adalah persamaan huruf. Semsial, desa mawa cara negara mawa tata (purwakanthi guru swara); Ruruh,rereh,ririh ing wewarihipun, mrih reseping para muyarsi (purwakanthi guru sastra).

Kekayaan yang luar biasa lainnya seperti di bidang sastra, ada yang berupa tembang, sulukan, kakawin, dan lain sebagainya. Uniknya, penutur bahasa Jawa di tanah kelahirannya sendiri memiliki aksen yang berbeda-beda. Ada aksen Banyumasan, Semarangan, bahasa Jawa ngapak, dan ada juga bahasa Jawa yang biasa dipergunakan di daerah vorstenlanden (wilayah kerajaan-red) seperti Surakarta dan Yogyakarta.