Cegah Stunting, Penting !
Lestari Octavia

Di tahun 2015, 1 dari 3 anak di seluruh dunia dinyatakan stunting, atau sekitar 156 juta anak di seluruh dunia dan Indonesia menempati no 5 terbesar di dunia dengan 9 juta anak. Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir tahun 2015 dan dilanjutkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) menggarisbawahi pentingnya meningkatkan kesehatan secara universal, termasuk ibu dan anak. Sayangnya, Indonesia belum berhasil mencapai semua tujuan yang ditetapkan, sehingga usaha berkelanjutan masih mutlak diperlukan.

Stunting atau pendek adalah keadaan dimana tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan teman dalam kelompok umur yang sama. Kurva pertumbuhan standar yang disusun Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjadi dasar pengelompokkan stunting dengan melihat indikator tinggi atau panjang badan dan umur, jika berada di bawah kurva pertumbuhan maka dikategorikan sebagai stunting. Stunting merupakan kejadian malnutrisi kronis, artinya kejadian berlangsung dalam waktu yang lama. Ibu hamil yang kekurangan gizi zat makro dan zat mikro kemungkinan lebih besar melahirkan anak dengan status stunting. Balita yang sering mengalami penyakit infeksi juga memiliki peluang lebih besar menjadi stunting.

Kejadian stunting di Indonesia

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan prevalensi balita dengan stunting masih bertengger di atas 35%. Di kawasan Asia Tenggara, kejadian stunting di Indonesia masih termasuk tinggi. Sementara di Riskesdas 2018, prevalensi stunting menurun, berada di kisaran 30%, walau sudah lebih rendah dibanding 2013, namun masih dianggap masalah kesehatan publik yang dapat berdampak serius untuk kualitas kesehatan.

Banyak orang tua yang tidak terlalu khawatir jika anaknya bertubuh pendek dengan alasan genetika. Lazimnya, orang tua berpendapat anak yang pendek terlahir dari orang tua yang juga berpostur tubuh pendek. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena lingkaran kurang gizi yang menyebabkan anak stunting lahir dari keluarga yang juga memiliki riwayat stunting. Faktanya, beberapa penelitian menunjukkan, pengaruh genetika pada kejadian stunting tidak terlalu khas, lebih banyak faktor lain yang menentukan dan mempengaruhi kejadian stunting.

BACA JUGA :  Peran Story Telling Di Masa Pandemi

Apa yang mengkhawatirkan dari kejadian stunting? Anak dengan stunting memiliki resiko lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan, rentan terhadap penyakit akibat, gangguan kognitif dan di usia dewasa mengalami unjuk kerja yang minim dan peluang mengalami penyakit kardiovaskular lebih besar. Kerugian akibat stunting dapat menurunkan 3% bruto domestik atau setara dengan Rp 300 T/tahun.

Mencegah stunting

Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan gerakan universal yang digagas untuk mengatasi kejadian malnutrisi. Program ini dimulai sejak kehamilan (konsepsi) dan berlanjut hingga anak yang dilahirkan berusia dua tahun. Namun, sesungguhnya untuk menjaga ibu tetap sehat selama hamil, maka sebelum periode kehamilan harus menjadi perhatian. Remaja putri adalah kelompok yang wajib mendapat perhatian lebih karena akan menjadi ibu dalam beberapa tahun mendatang. Kejadian anemia selama kehamilan menjadi faktor resiko melahirkan bayi dengan stunting, panjang badan < 48 cm, yang menandakan malnutrisi selama mengandung terjadi.

Beberapa usaha yang dilakukan pemerintah dalam penanganan stunting, (1) memperbaiki dosis suplementasi dengan menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan no 88 tahun 2014 mengenai pemberian 60 mg zat besi dan 400 µg asam folat untuk mencegah anemia, yang memberikan tidak hanya untuk ibu hamil tapi juga wanita usia subur, termasuk remaja putri. Namun yang sangat disayangkan, cakupan program ini masih rendah. Beberapa faktor yang diduga penyebabnya adalah tingkat pengetahuan yang rendah, bentuk dan rasa suplemen yang tidak menarik dan bau suplemen yang menyebabkan mual. Jika program ini akan terus dilaksanakan, penting untuk meninjau kembali sediaan suplemen yang diberikan, karena walaupun program suplementasi tablet tambah darah sudah berlangsung lebih dari dua dekade, namun kejadian anemia masih tinggi. Alternatif lain adalah memberikan suplemen zat multi mikronutrien yang di dalam penelitian klinis terbukti memperbaiki beberapa kekurangan zat gizi mikro sekaligus.

BACA JUGA :  Meneropong Nasib Papua di Tengah Pemberlakuan Omnibus Law Ciptaker

(2) Memperbaiki sanitasi dan higienitas karena banyak studi menunjukkan hal ini terkait dengan kejadian stunting. Buruknya sanitasi, sumber air bersih yang tidak memadai akan menyebabkan anak beresiko mengalami penyakit, seperti diare. Diare yang terjadi secara kontinyu akan secara signifikan menyebabkan malnutrisi dan segala komplikasinya.

(3) Konsumsi yang berbasis protein hewani juga bermanfaat menyediakan zat gizi yang penting untuk pemenuhan tumbuh kembang karena kebutuhan energi dan zat gizi esensial untuk kelompok ini. (4) Meningkatkan layanan kesehatan. (5) Meningkatkan cakupan program nasional seperti imunisasi, suplementasi vitamin A, pemberian garam beryodium dan sebagainya.

Prevalensi stunting ditemui paling tinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Multifaktorial yang menyebabkan tingginya prevalensi stunting di NTT, namun tidak berarti provinsi lain terbebas dari masalah stunting. Kasus stunting masih ditemui di DKI Jakarta, Jawa Barat. Dua provinsi yang dekat dengan pusat kekuasaan dan pemerintahan, teknologi dan informasi yang lebih memadai namun kasus stunting masih ditemukan.

Stunting sebagai manifestasi kurang gizi kompleks memang memerlukan pendekatan yang menyeluruh dalam penanganannya. Semua pihak sebaiknya mengambil peran sesuai porsi masing-masing karena generasi masa depan ditentukan hari ini. Maka cegah stunting, penting!.

 

Penulis adalah Kandidat Doktor Ilmu Gizi FK UI