Cuaca Tak Menentu Berakibat Bibit Bawang Merah Kurang Maksimal

Brebes, mediakita.co – Di bulan Desember ini, sebagian besar bawang merah di Kabupaten Brebes memasuki masa panen. Tak terkecuali di Desa Dukuhwringin Kecamatan Wanasari yang merupakan salah satu desa penghasil bawang merah terbaik dengan kwalitas bibit yang tidak diragukan lagi.

Di Kabupaten Brebes sendiri untuk pola tanam bawang merah 2 hingga 3 kali dalam setahun. Sedangkan untuk tanaman lainnya, seperti padi dan sayuran hanya sekali tanam. Itu pun sembari menunggu waktu agar umur bibit bawang merah bisa siap tanam, kurang lebih 60-70 hari, yang bisa disebut petani dengan istilah bawang bibit kawak.

Untuk persiapan dan pembuatan bibit bawang merah sendiri membutuhkan waktu dan proses yang relatif lama. Selain dengan proses penjemuran dan pemilahan biji bawang merah, juga dengan proses pengasapan. Tujuannya, agar bawang merah bisa lebih awet ketika disimpan.

“Penjemuran bawang setelah dipanen itu sangat dibutuhkan, karena itu sebagai pengering pertama agar daun bisa kering sempurna. Selain daun juga akar bawang dan tanah yang masih menempel agar bisa dengan mudah dibersihkan,” ujar Carto (32) petani asal Dukuhwringin ketika dimintai keterangan, Minggu (13/12).

BACA JUGA :  Pembangunan Jembatan di Jalingkut Brebes-Tegal Rampung Dibangun

Ia menambahkan, dengan cuaca seperti ini yang setiap hari mendung dan turun hujan, penjemuran bawang merah untuk persiapan bibit tidak sempurna. Daun bawang basah, sehingga menimbulkan bau serta berakibat busuk karena ditutup rapat dengan plastik.

“Cuacanya tak menentu, tiap hari mendung. Pagi-pagi sudah gerimis, kadang hujan sampai sore. Giliran tidak hujan cuacanya mendung tidak ada sinar matahari. Sehingga bawang yang kami jemur pada busuk, untuk persiapan bibit kurang maksimal,” tambah Carto.

Keluhan serupa disampaikan petani lain, Rasmun (40). Selain cuaca yang tak bersahabat, ia mengeluhkan harga bawang yang setiap hari terus menurun. Ditambah dengan ketersediaan pupuk yang kini susah didapatkan di kios kios pengecer, serta harga obat bawang yang dirasa cukup mahal.

“Harga naik atau turun di sini tetap tanam, rugi untung sudah biasa, tapi untuk musim ini setiap hari harga bawang terus menurun. Ditambah lagi untuk pupuk dan juga obat bawang malah harganya pada naik,” pungkas Rasmun.

Perlu diketahui, untuk beberapa petani Brebes yang punya modal besar sampai menanam di luar wilayah Brebes, seperti Pemalang, Tegal, Kendal, bahkan Jawa barat seperti Cirebon dan Majalengka serta beberapa wilayah lain di Jawa barat. Ini juga yang pernah dilakukan salah satu petani Kabupaten Brebes yang akrab disapa Mbah Wurja (58).

BACA JUGA :  Perayaan Nataru Di Kabupaten Brebes Ditiadakan

“Faktor inilah yang membuat harga bawang merah selalu flukatif, terutama menjelang hari raya besar keagamaan dan tahun baru Masehi. Namun dalam kurun waktu setahun ini harganya bisa stabil dan masyarakat bisa menikmati hasil panen dari tanam bawang merah, walaupun untuk musim ini setiap hari harganya terus turun,” kata Wurja.

Ia menambahkan, sebagai petani, bawang merah menjadi penopang ekonomi keluarga, dan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Selain komoditas unggulan juga dirasa sudah mendarah daging.

“Jadi sampai kapan pun akan tetap menanam bawang selagi ada peluang, bahkan sampai harus menanam di luar Brebes,” tandasnya. (jun)