Kalaidoskop Pilkades 2018 : Unik, Empat Calon Kades Ini Bertarung Melawan Istrinya Sendiri
Kalaidoskop Pilkades 2018 : Unik, Empat Calon Kades Ini Bertarung Melawan Istrinya Sendiri

PEMALANG, mediakita.co- Pada tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Pemalang menggelar pemilihan kepala desa serentak di 172 desa. Meliputi 14 kecamatan, pilkades  di laksanakan dengan cara elektronik (e-voting).

Dari berbagai sumber yang di rangkum team mediakita.co, setidaknya ada 6 catatan penting. Catatan unik dan tak lazim, hingga yang bersifat evaluasi yaitu :

  1. Pilkades 2018 Paling Liberal ?

Alih-alih e-voting sebagai cara efisiensi biaya, pilkades tahun ini ditengarai sebagai pilkades paling mahal. Pasalnya, politik uang menjadi bagian pertarungan paling heroik dalam pilkades. Untuk mencari simpati pemilih, calon kepala desa bertarung dalam jual beli suara dengan besara cukup fantastis.

Data dari pemantau independen, Forum Ormas dan LSM Pemalang menyebutkan besaran politik uang dalam musim pilkades tahun 2018 dari puluhan ribu hingga ratusan ribu per suara. Berlaku seperti hukum pasar. Siapa berani beli suara mahal, hampir pasti dialah pemenangnya.

Meskipun di beberapa desa fenomena ini tidak menunjukan sebagai kunci kemenangan. Namun secara mayoritas, politik uang masih menjadi penentu kesuksean seoran kandidat kepala desa. Forum ormas dan LSM Pemalang mencatat hal tersebut sebagai ruang evaluasi regulasi. Perda pilkades belum mengatur ketat larangan penggunaan politik uang.

  1. Enurudi Joko Wijoyo, satu-satunya kades tanpa politik uang di Pemalang

Di hingar bingar politik desa berbiaya mahal, ternyata masih ada kandidat yang mampu melepaskan diri dari gurita politik uang. Meskipun tergolong langka, terutama dalam gelaran pilkades pemalang tahun 2018, namun faktanya memang ada.

Kalaidoskop Pilkades 2018 : Unik, Empat Calon Kades Ini Bertarung Melawan Istrinya Sendiri
Enurudi Joko Wijoyo

Dalam pilkades yang oleh sejumlah pihak dianggap sangat liberal tersebut, di Desa Semaya Kecamatan Randudongkal, lain cerita. Pilkades di Desa Semaya mampu keluar dari lubang jarum politik uang.

Adalah Enurudi Joko Wijoyo, satu-satunya calon kades terpilih di Kabupaten Pemalang yang berhasil memenangkan pemilihan kepala desa tanpa menggunakan politik uang.

Pemuda lajang yang sebelumnya diketahui sebagai pendamping desa dan aktif diberbagai organisasi tersebut mampu menyingkirkan empat lawannya tanpa syarat.

  1. Pilkades di hadiri menteri dan anggota DPR RI

Sebagaimana lazimnya pilkades, kunjungan pejabat pada pelaksanaannya biasanya dilakukan oleh pejabat daerah setempat.  Namun, dalam pilkades serentak putaran pertama di Kabupaten Pemalang 2018, ada keistimewaan. Mungkin menjadi pertama kalinya dalam sejarah, ada pilkades dihadiri oleh seorang menteri dan anggota DPR RI.

Kehadiran menteri dan anggota DPR RI dalam pilkades tersebut tidak terlepas dari fungsi dan tugasnya. Tetapi kehadiran menteri dan anggota DPR RI dalam pilkades menjadi sejarah tersendiri.

Seperti diketahui, menristekdikti Mohammad Nasir dan anggota DPR RI Hendrawan Supratikno hadir untuk memantau langsung pilkades secara elektronik (e-voting).  Keduanya hadir untuk memantau langsung pemilihan kepala desa secara e-voting di di Desa Surajaya Kecamatan Pemalang.  Karena e-voting menjadi model pemilihan baru di Inonesia.

Di Pemalang, Menristek dan rombongan dari BPPT, dan DPRD Provinsi Jawa Tengah, didampingi Bupati Pemalang Junaedi, menyaksikan secara langsung saat warga menggunakan hak pilihnya dari rekam data kependudukan dengan KTP, hingga saat memilih dengan layar sentuh di bilik suara.

  1. Demo Pilkades ke Istana Negara ?

Tak puas dengan hasil pilkades, sejumlah calon menggelar aksi penolakan. Uniknya, aksi menolak hasil pilkades tidak hanya dilakukan diwilayah kantor pemerintahan daerah Kabupaten Pemalang. Tetap dilakukan hingga di depan istana negara.  Wow, mungkin aksi ini menjadi hal yang langka dan pertama dalam sejarah demokrasi desa. Karena pilkades sejatinya wilayah tanggung jawab pilkades berada di pemerintahan daerah.

Seperti diketahui, sejumlah warga yang tergabung dalam Relawan Pendukung Jokowi (Bejo) dari Kabupaten Pemalang yang tak puas dengan proses dan hasil pilkades secara e-voting mendatangi Istana Negara di Jakarta. Mereka meminta Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah diulang secara manual.

  1. Hanya istrinya sendiri, yang berani melawan empat calon kades ini

Kisah unik terjadi di empat desa. Mengapa unik ? Karena calon kepala desa di empat desa ini duduk dikursi panas melawan istrinya sendiri. Pertama Imam Wibowo di Desa Penggarit Kecamatan Taman. Dia duduk bersanding sebagai petahana dalam bursa pemilihan kepala desa bersama istrinya sebagai lawannya. Ke dua, Calon Kepala desa Aufa Sidik dan istrinya di Desa Gendoang Kecamatan Moga.

Di Desa Pepedan Kecamatan Moga, kasus serupa terjadi. Di desa ini, calon incumbent Maftukhah dan Sofali adalah pasangan suami istri dengan nomor urut 1 dan 2. Mereka maju bersama dalam ajang pemilihan kepala desa.  Dan ke empat, di Desa Klegen Kecamatan Comal.  Gunawan Hadi Saputro sebagai Calon petahana, duduk dikursi calon kades berdampingan dengan Warniti yang tak lain adalah istrinya sendiri.

Fenomena calon kades melawan istrinya sendiri terjadi karena menurut peraturan yang ada, tidak dimungkinkan adanya calon tunggal. Untuk mengatasinya, apabila sampai dengan habisnya masa pendaftaran hanya ada satu orang calon yang mendaftar, panitia akan memperpanjang selama tujuh hari.  Waktu perpanjangan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi warga lainnya untuk mendaftar. Untuk mengatasi kebuntuan, diempat desa tersebut para calon petahana mengajukan istrinya sebagai calon kades lawan tandingnya.

Oleh : Arief Syaefudin

BACA JUGA :  5 Pemuda Pemalang Boyong Delapan Gelar Juara Meme Nasional