Kisah Anak Angkat Bung Karno dari Bali
Infoyunik.com

Dalam banyak sumber sejarah, Anak Angkat bung karno hanya dikenal Ratna Djuami dan Sukarti. Ratna ialah anak angkat dari Bung Karno dan Inggit Garnasih, Ratna ialah anak dari pasangan Sumarta dan Murtasih, Murtasih sendiri Kakak dari Inggit. Sedang Sukarti ialah Ratna Djuami menemani Soekarno pada saat dibung di Ende.

Sedang sukarti ialah “adik” dari Ratna. Ia  anak dari Atmo Sudirjo seorang juru ukur yang terkagum pada Soekarno. Namun, jarang mengetahui Bung Karno pernah mengangkat anak dari Bali, ia bernama lengkap Desak Made Soekarno.

ajibpol

Dalam buku berjudul Perginya seorang kekasih, Suamiku & Kebangganaku (1978), ia lahir pada tahun 1959 oleh seorang penduduk di Tampaksiring Bali. Sesuai adat kebiasaan Bali, saat usianya mencapai 3 hari ia harus dimandikan. Ia harus dimandikan oleh Neneknya di Sebuah pancuran. Bayi tersebut merasa kedinginan dan mengalami kejang-kejang.

Kebetulan saat ia dimandikan Bung Karno lewat, saat bayi itu menangi kedinginan. Bung Karno mengambil bayi itu dari tangan nenek, seketika upacara dihentikan. Waktu itu tubuh bayi sudah kelihatan membiru, akibat kedinginan.

BACA JUGA :  Kunjungi Ketua PWNU Jatim, PSI Buka Borok Anies : FPI Dibubarkan, Mau Bikin Citra Baru

“Siapa anak ini” Tanya bung Karno
“cucu saya pak” jawab si nenek
“namanya..” Bung Karno melanjutkan pertanyaanya.

Nenek tadi menjawab bahwa ia belum diberi nama. Bung Karno segera mengusulkan agar anak ini diberi nama sekaligus menanyakan alamat rumahnya. Sore hari pada saat upacara pemberian nama, Bung Karno mengusulkan agar bayi tersebut diberi nama Desak Made Karno, sekaligus mengambilnya sebagai anak angkat. Kemudian setelah keluarga menyetujui, beberapa hari kemudian bayi tadi resmi secara hukum dan adat setempat menjadi anak angkat Soekarno.

Desak selalu membawakan buah-buahan kepada ayah angkatnya ketika Bung Karno berkunjung ke Istana Tampaksiring. Namun ketiadaan Biaya membuat Desak bersekolah sampai jenjang pendidika kelas II SMP. Selama menjadi anak angkat, ia tidak mendapat keistimewaan selain beberapa pakaian dan membuka warung di depan istana.

Setelah peristiwa 1965, ia dilarang berjualan di depan Istana. Ia berjualan agak jauh dari Istana. Desak membuka Warung Blitar, konon nama Blitar adalah pemberian dari Bu Wardoyo (kakak Soekarno), ia terletak di tepi Sungai yang mengalir di depan Istana Tampaksiriing. Warung ini tampak sederhana, meski makananya cukup sedap. Yang membuat banyak orang penasaran adalah nama Karno di belakang nama Desak. Saudara tiri Desak semacam Guruh, Guntur, maupun Rachmawati sering mengunjungi Desak, bahkan Ibu Dewi juga berkunjung ke kediaman Desak.