Memanfaatkan Bakteri, Petani 1960-an Hasilkan Produksi Beras Berkualitas
Sosialisasi pemanfaatan bakteri untuk tanaman padi
Pekalongan, Mediakita.co-  Ketua Dewan Pimpinan Pusat KTMI dari Salatiga, Profesor Kasiat Adi Siswanto tengah mensosialisasikan perawatan tanaman padi dalam meningkatkan hasil produksi menggunakan teknologi bakteri. Perawatan tersebut adalah pola yang digunakan petani tahun 1960-an.

Petani Indonesia kini terus dihadapkan dengan berbagai problematika. Dari melambungnya harga pupuk, obat-obatan, benih bahkan tenaga kerja membuat petani mengeluh. Adanya berbagai masalah itu, salah seorang penggerak KTMI di wilayah Kecamatan Sragi, Eko Sutrisno mampu meniru pola petani tahun 1960-an yakni menggunakan bakteri.

 Menurut Kasiat Adi Siswanto, ia membrikan nasehat kepada para petani agar mengurangi penggunaann Pupuk Kimia. “Untuk itu KTMI ingin menyadarkan petani, untuk mengurangi atau tidak menggunakan pupuk, obat kimia. Dan sebenarnya semua unsur itu semuanya sudah terkandung dialam ini seperti penggunaan bakteri,” ungkapnya.

Menurutnya selain semua terkandung dialam, paling tidak ditambahkan dari kotoran yang digunakan untuk pupuk. Namun yang ada selama ini semua obat dan pupuk petani harus membeli sehingga membuat biaya produksi bertambah. Sedangkan hasil masih tetap tanpa ada perubahan.

“Sebenarnya petani tidak usah menggunakan pupuk kimia, tinggal memasukan karbon, memasukan areng ke tanah kita, kalau areng masuk akan lebih baik dan tidak lolos,” ungkap alumnus dari Malaysia itu.

Ia mengaku di negara tetangga yang tahun 1960-an belajar ke Indonesia, kini masih menerapkan dengan menggunakan pupuk organik dan bakteri. Sedangkan petani Indonesia kini sudah berubah drastis tidak mengenal pola tani nenek moyang tahun 60-an.

Ia juag menambahkan melalui cara alami, beras yang dihasilkan menjadih sehat, sehingga nasi paling tidak bisa bertahan sampai tiga hari tidak berbau.

(MK 016)

BACA JUGA :  Polisi Amankan 4 Pengamen di Pertigaan Gandulan