Saya Positif: Kisah Jovita Adyarani Pasien yang Sembuh dari Covid 19

Bagikan Artikel

WSEMARANG, mediakita.co – Adalah Jovita Adyarani warga Kota Semarang berbagi kisah perjuangannya melawan covid 19. Kisah itu diberinya judul, ‘Saya Positif’. Dalam kisah itu Jovita bertutur tentang awal dia merasakan gejala dari penyakit mematikan tersebut. Ia mengaku bahwa gejala yang dirasakannya berbeda dengan yang lazim dari penderita covid 19. Secara lugas dan mengharuhkan Jovita berkisah tentang rasa sakit, tekanan batin, tekanan sosial hingga komunikasinya denga Tuhan selama masa – masa kritis. ‘Karena harapan, semangat dan anugerah Tuhan’ demikian pengakuannya sehingga bebas dari virus yang sangat jahat tersebut. Selengkapnya kisah Jovita yang disadur langsung dari akun facebooknya https://www.facebook.com/murhanjati

SAYA POSITIF

Ya, saya positif covid 19.

Tanggal 12 Maret saya mulai mengalami radang tenggorokan,

Sebuah penyakit rutin karena pekerjaan yang membutuhkan kegiatan berbicara lebih dari 6 jam berturut-turut.

Tidak sesak, tidak demam, tidak mual.

Saya pikir hanya penyakit rutin saja.

Saya sembuh total tanpa keluhan di tanggal 20 Maret.

Selama masa itu saya isolasi di rumah.

Tetapi di tanggal 22 Maret tiba-tiba mulai merasakan gejala tidak nyaman di area perut,

Dan semakin hari semakin berat yang dirasakan.

Awalnya saya mengira keracunan makanan.

Gejala yang ditunjukkan tidak khas seperti gangguan pernapasan pada covid umumnya.

Gangguan yang saya rasakan lebih di area pencernaan, yang juga menimbulkan demam dan nyeri di berbagai tempat.

Karena itu saya harus menjalani berbagai rangkaian pemeriksaan medis berulang kali.

Hingga tanggal 30 Maret saya mulai dirawat,

Karena hasil ct scan menunjukkan adanya GGO di paru-paru,

Meskipun saya tidak mengalami sesak, batuk, atau kesulitan bernapas sama sekali, dan hasil rontgen pun baik.

Hasil rapid dan swab positif.

Tanggal 31 subuh pukul 4 hingga 9 pagi adalah hari terberat ketika serangan di berbagai bagian tubuh sudah tidak tertahankan.

Nyeri perut hebat, ulu hati, kepala, sendi, dada, telinga dalam, punggung, pinggang dan tenggorokan.

Yang sebelumnya tidak batuk berdahak,

Tiba-tiba memuntahkan banyak sekali dahak.

Meskipun dokter menyatakan bahwa gejala saya termasuk kriteria ringan namun tidak khas, tetap saja rasanya cukup berat untuk dilalui.

Saya sudah berpasrah jika ini sudah waktunya.

Bahkan dalam kondisi tiduran pun saya serasa hampir pingsan berulang kali.

Mungkin terdengar berlebihan,

Tapi saya yang sering mengalami berbagai sakit,

Biasanya mulai mengerti ritme tubuh pada saat proses menuju sembuh.

Tapi kali ini,

Saya sudah tidak paham lagi ritme tubuh ini,

Semua obat seolah tidak bereaksi.

Tidak bisa makan karena tubuh menolak,

Tidak punya selera,

Tidak bisa minum tercekat di tenggorokan,

Mulai lemas dan berkeringat dingin terus menerus.

Rekan-rekan dokter memberi support yang luar biasa,

Membesarkan hati dan mendengarkan dengan sabar setiap keluhan.

Disitulah saya mulai mengerti bahwa virus ini,

Sangat tidak mudah dimengerti dan unik,

Dan sangat tidak bisa dianggap sepele.

Karena itu proses penelitian dan pembelajaran masih terus dilakukan.

BACA JUGA :  3000 Peserta Ikuti Parade Kebinnekaan Jelang Natal Di Salatiga

Pun bukan bahan bercandaan, dan topik untuk saling menyindir dan menyalahkan.

Saya bukan ingin menebar ketakutan,

Saya menceritakan apa yang terjadi saat itu.

Masih teringat jelas dalam 1 hari ada sekitar 9 tabung infus yang harus masuk berbagai ukuran,

Pil yang jumlahnya cukup banyak,

Injeksi yang cukup banyak dan sakitnya luar biasa saat masuk ke pembuluh darah karena karunia Tuhan saya diberi vena yang kecil,

Dan obat yang dimasukkan beberapa cukup pekat.

Tetapi dalam kepasrahan saya saat itu,

Tidak sanggup lagi menahan nyeri di seluruh tubuh,

Tak sanggup lagi memegang handphone untuk membaca ratusan pesan support lagi,

Saya hanya bisa menggenggam rosario sekuat mungkin dan pasrah ketika perawat keluar masuk memeriksa, menyutikkan obat dan berbagai tindakan medis lainnya,

Saya tiba-tiba terlelap dengan sangat nyenyak setelah sekitar 3 minggu tidak merasakan tidur yang sangat nyenyak karena menahan nyeri.

Saya bermimpi seolah sedang berada di rumah sakit.

Antara sadar dan tidak,

Bertanya-tanya sendiri,

Saya sedang apa dan dimana,

Saya melihat perawat hilir mudik memasukkan berbagai suntikan, mengukur tensi dan suhu,

Tetapi saya tidak merasakan kesakitan lagi dalam mimpi itu.

Saya ingat sempat berpikir apakah jiwa saya sudah terlepas dari tubuh?

Dan melihat diri saya sendiri sedang tiduran dengan perawat di sebelah saya.

Beberapa jam kemudian saya dibangunkan perawat,

Untuk makan siang dan minum berbagai obat.

Puji Tuhan,

Entah bagaimana semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang.

Seorang rekan dokter mengatakan bahwa masa kritis saya baru saja berlalu.

Dan kondisi setelahnya memang menjadi jauh lebih baik.

Tanggal 6 April saya ct scan ulang,

Tampak banyak perbaikan di paru-paru.

Namun belum sepenuhnya sembuh.

Saya dirawat hingga 15 April,

Dan selanjutnya dinyatakan sembuh dengan 2x swab PCR negatif pada tanggal 20 dan 27 April.

Melanjutkan isolasi kembali di rumah.

Dan hari ini saya sudah mulai praktek kembali,

siap untuk melayani kembali meskipun situasi tidak bisa seperti dulu lagi.

Dalam kisah perjalanan itu saya merasakan tekanan psikologis yang luar biasa.

Saya yang sudah 20 tahun hidup mandiri dan sendiri,

Tidak pernah merasakan kesepian yang amat sangat seperti pada masa isolasi ini.

Ketika dalam masa terendah saya justru tidak diijinkan untuk dekat siapapun demi kebaikan bersama,

Sungguh harus kuat melalui ini sendirian.

Saya yakin,

Semua yang berhadapan langsung dengan covid ini,

Baik pasien, tenaga kesehatan, maupun pihak keluarga,

Faktor psikologis juga menjadi isu utama selain proses kesembuhan secara fisik.

Sebagai tenaga kesehatan,

Saya juga merasakan ditolak masyarakat ketika mereka tahu saya adalah seorang tenaga kesehatan yang positif covid.

Ibu saya juga sempat diancam diusir dari tempat tinggal saya.

Meskipun ibu saya datang untuk membersihkan,

Dan saya sudah tidak tinggal di rumah dalam kondisi sakit.

Bersamaan dengan situasi itu pula saya kehilangan seorang adik yang berpulang ke rumah Tuhan.

BACA JUGA :  Jalin Kekeluargaan, Wakapolsek Taman Besuk Anggota yang Sedang Sakit

Ketika pulang dari perawatan,

Saya masih tidak bisa pulang ke rumah,

Sebelum swab saya negatif.

Atau akan terjadi konflik lain di area tempat tinggal.

Masih banyak kisah lain dalam proses itu yang membuat mental saya sungguh down.

Meskipun saya sudah bersih dari covid,

Gejala lain muncul,

Saya memang memiliki maag akut,

Dan dengan banyaknya obat,

Saya masih harus meneruskan rawat jalan untuk lambung.

Seolah lambung tidak sanggup menerima sejumlah obat rutin dan multivitamin yang harus dikonsumsi.

Berdamai dengan sinus aritmia dan gerd,

Sakit yang belum pernah muncul sebelumnya.

Tetapi ini kasuistik pada kondisi saya,

Tidak berbicara untuk kasus secara umum.

Ketika saya berangsur sembuh,

Saya menonton kesaksian seorang Tung Desem Waringin,

Motivator kelas international,

Yang juga positif covid.

Ia pun jatuh dalam rasa putus asa sesaat melawan rasa tidak menentu di tubuh.

Tetapi ia bangkit kembali karena pengobatan dan semangat untuk tetap bersukacita.

Siapa yang menyangka meskipun saya seorang tenaga kesehatan tetapi non-medis,

Dan bukan seorang pejuang garda depan yang menangani langsung pasien covid,

Justru menjadi yang terkena dengan sangat cepat dan entah tertular dimana.

Siapa yang menyangka hampir semua berita yang tersiar itu juga saya alami?

Apa yang membuat saya bertahan?

Hal yang positif!

Pada masa itu,

Saya memilih tidak membaca apapun tentang covid,

Tidak Membagikan kisah saya,

Hanya berbagi dengan ibu,ayah dan kakak saya,

rekan dokter serta perawat.

Untuk menekan munculnya dampak psikologis yang lain.

Hanya fokus dengan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kondisi.

Saya berusaha tetap gembira dan positif di situasi yang sepertinya tersenyum pun tidak mungkin,

Membaca renungan, support dan semangat yang membangun.

Ketika dalam 40 hari lebih saya di dalam masa isolasi,

Dan 60 hari lebih konsumsi obat-obatan,

Menulis, membaca, meditasi dan berdoa menjadi kekuatan yang luar biasa,

Menjaga kesadaran iman dan pikiran positif agar semua proses ini terasa lebih ringan.

Postingan saya terbatas pada hal yang membuat saya bangkit lagi bahwa ada orang-orang yang masih menantikan saya sembuh, pulang dan berkarya lagi.

Pada masa ini pula,

Saya belajar mengerti,

Bahwa rencana manusia,

Kehendak pribadi,

Kesempurnaan duniawi,

Kecintaan pada benda,

Egoisme dan ambisi,

Bukanlah penentu kesempurnaan hidup.

Tetapi rencana Ilahi.

Dalam titik terendah dan kesederhanaan,

Hanya tubuh, jiwa dan pikiran yang seimbang menjadi bekal melalui masa yang sulit.

Dalam isolasi itu,

Komunikasi interpersonal sangat dibatasi

demi kebaikan bersama.

Tetapi komunikasi intrapersonal dan komunikasi dengan Sang Ilahi menjadi tak terbatas.

Saya menemukan jawab dari ribuan pertanyaan kehidupan sebelum saya terkena covid dan melihat bahwa dunia sedang beristirahat dari eksploitasi.

Mensyukuri sapaan terkecil,

Dari rekan-rekan perawat, dokter, dan petugas kebersihan.

Menghargai perjuangan mereka dengan napas yang terengah-engah, keringat yang mengucur deras,

Kelelahan mental dan fisik yang luar biasa,

BACA JUGA :  Ormas dan LSM Salatiga Diajak Kedepankan Komunikasi

Di balik lapisan apd yang pengap dan kecemasan internal,

Namun dengan senyum, pelayanan dan sapaan yang tetap hangat dan penuh kasih.

Mereka orang terdekat saya saat itu,

Kami saling bercerita dan menguatkan satu dengan yang lain.

Ketika hari ini saya masih bisa bangun kembali,

Saya hanya bisa mensyukuri apapun yang sudah terjadi.

Tuhan ijinkan saya melihat, mengalami dan merasakan covid ini dari dekat.

Memaklumi dan menerima segalanya.

Kini saya kembali siap dengan apapun rencana Tuhan,

Dengan gaya hidup yang baru.

Hidup tetap berjalan,

Meskipun situasinya tidak bisa seindah, semudah dan senyaman dulu.

Seorang sekretaris menyapa saya,

Ketika saya kembali,

“Bu Jo, sebuah proses kehidupan sekali ya. Tapi sekarang sudah bisa kembali sehat dan siap untuk hidup yang baru”

Ya,

Kita pun semua baru saja menjalani sebuah proses kehidupan yang luar biasa.

Butuh sebuah covid untuk membuat dunia dan seisinya istirahat,

Menghargai kemudahan,

Mensyukuri yang dimiliki,

Menghargai kebersamaan,

Dan menyadari bahwa hanya tubuh, jiwa dan roh yang dibutuhkan untuk mendapatkan kehidupan terbaik.

Terima kasih untuk Tuhan pemilik kehidupan,

Untuk keluargaku yang menjaga dan memberi support tak terbatas,

Mereka membuat saya percaya bahwa I’m more than I thought I could be.

Tim dokter, perawat, seluruh bagian dari manajemen rumah sakit, tim kebersihan, rekan-rekan kerja yang mengerti sungguh apa yang saya butuhkan secara medis dan psikologis,

Rekan-rekan dan para sahabat yang dengan setia menjaga kisah dan kepercayaan saya,

Membantu menjaga keseimbangan mental saya,

Sahabat-sahabat rohani,

Dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Aura positif yang diberikan mereka membuat saya tetap menjaga keseimbangan mental, emosional dan pikiran.

Tuhan membalas semua kebaikan dan perjuangan teman-teman sekalian.

Jika saya bisa bertemu covid,

Saya akan berterima kasih atas segala pembelajaran kehidupan.

Semua yang menemani saya dalam proses ini, sispapun itu adalah seorang pahlawan kemanusiaan.

Dan kita pun adalah pahlawan,

Dengan menyebarkan kebaikan,

Kata-kata positif, optimisme dan sukacita.

Bersama kita juga akan menang melalui masa sulit ini.

Stress itu menular,

Tetapi kebahagiaan menyebar lebih cepat.

Dan hati yang gembira adalah obat yang manjur.

Bagi para tenaga kesehatan yang masih setia dalam karya pelayanan mereka,

Para pasien pejuang covid,

Dan yang sudah pulih kembali,

Anda hebat!

Untuk para pejuang covid yang sudah berpulang,

Dan segenap keluarga yang ditinggalkan,

Anda ada dalam doa-doa kami,

Tuhan limpahkan penghiburan dan kekuatan,

Surga milikmu.

Dan bagi yang masih sehat,

Mari kita bersama-sama saling menjaga, menghargai, dan tetap mengasihi satu sama lain.

Tetaplah sehat dan berbahagia.

Saya positif,

Dan bangkit karena positivity.

Sekarang mari kita melanjutkan hidup dan tetap meneruskan kebaikan.

Kesembuhan ini milik Tuhan,

Dan saya kembalikan sepenuhnya kepada sang Ilahi untuk karya pelayanan selanjutnya.

Fiat Voluntas Tua.

Salam sehat lahir dan batin,

Jovita Adyarani

 

Next Post

Ngeri ! Masih Ingat NF (15), Pembunuh Balita di Sawah Besar? Ternyata "Slenderman"Korban Pemerkosaan

Jum Mei 15 , 2020
Bagikan Artikel WSEMARANG, mediakita.co – Adalah Jovita Adyarani warga Kota Semarang berbagi kisah perjuangannya melawan covid 19. Kisah itu diberinya judul, ‘Saya Positif’. Dalam kisah itu Jovita bertutur tentang awal dia merasakan gejala dari penyakit mematikan tersebut. Ia mengaku bahwa gejala yang dirasakannya berbeda dengan yang lazim dari penderita covid […]
Ngeri ! Masih ingat NF (15), Pembunuh Balita di Sawah Besar ? Ternyata "Slenderman"Korban Pemerkosaan