Siklon Tropis Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan Di Atas Normal

NASIONAL, mediakita.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir berita mengenai kondisi cuaca Indonesia pada umumnya. Dalam rilis yang dikeluarkan pada Senin 02/11/2020 BMKG meminta masyarakat agar terus menerus memantau informasi terkini dari BMKG. Hal tersebut dikarenakan siklon tropis kuat kategori 5 bisa memicu gelombang tinggi perairan, hujan lebat, dan angin kencang di sejumlah daerah di Indonesia,

Sepert diketahui, Siklon tropis Goni yang telah berkembang menjadi siklon tropis telah terjadi dan berdampak langsung berupa bencana banjir, longsor dan angin kencang di Filipina. Siklon tropis Goni terbentuk di Samudera Pasifik barat dan diprediksikan jalur lintasannya menuju Laut Cina Selatan hingga beberapa hari ke depan setelah melewati Filipina.

Siklon Tropis dan La Nina

BMKG menyebutkan bahwa banyak study menyebutkan terdapat hubungan antara jumlah siklon tropis di Samudera Pasifik Barat dan Laut Cina Selatan dengan kejadian La Nina yang sedang berlangsung. Pembentukan siklon (siklogenesis) memiliki peluang yang lebih besar menjelang musim dingin di Belahan Bumi Utara setelah permulaan La Nina, sementara lebih banyak pembentukan siklon pada musim panas selama permulaan El Nino.

ajibpol
BACA JUGA :  Ahmad Basarah Dorong Parlemen Dunia Bahas Konflik Israel-Palestina

Selain itu BMKG juga memberikan informasi yang perlu dipahami masyarakat bahwa La Nina bukan merupakan jenis badai tropis yang berupa pusat tekanan rendah dan pusaran angin yang menyebabkan curah hujan dan kecepatan angin ekstrim.

Badai atau siklon tropis adalah fenomena ekstrim gangguan cuaca dalam skala ratusan kilometer yang memiliki dampak bersifat regional baik dampak langsung maupun tidak langsung, dan berlangsung dalam beberapa hari. Sedangkan La Nina adalah kondisi penyimpangan (anomali) suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normalnya, dan diikuti oleh penguatan aliran angin pasat timur.

La Nina terjadi dalam skala waktu beberapa bulan hingga tahun, dan mempengaruhi cuaca/iklim global berupa kondisi lebih basah/kering, lebih hangat/dingin, dan dinamika cuaca lainnya yang berbeda di tiap wilayah di dunia.

Waspada Fenomena La Nina

BMKG menjelaskan bahwa secara teoritis, badai atau siklon tropis umumnya hanya bisa berkembang dan menguat di wilayah tropis di luar 10 derajat lintang utara atau selatan. Hal ini dikarenakan secara fisis pembentukan siklon dapat terjadi bila memenuhi syarat anomali suhu muka laut yang lebih hangat dibanding wilayah sekitarnya (umumnya >28C) dan adanya potensi pusaran yang besar karena pengaruh gaya korioli, atau akibat pengaruh rotasi bumi. Gaya korioli di wilayah Indonesia umumnya bernilai kecil karena dekat dengan garis ekuator, sehingga relatif lebih kecil peluang terjadinya Siklon Tropis di Indonesia.

BACA JUGA :  Viral : Ini Kata Syeikh Ali Jaber Terkait Penusukan yang Dialaminya dalam Podcast  Dedy Corbuzier

Dengan mencermati kondisi saat ini, BMKG menghimbau masyarakat untuk tetap tenang terhadap informasi yang tidak benar terkait badai tropis yang dianggap sama dengan fenomena La Nina. Namun demikian, masyarakat namun diharapkan tetap waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak La Nina yaitu dengan ancaman banjir, banjir bandang, dan longsor akibat curah hujan ekstrim.

Beberapa langkah antisipatif yang bisa dilakukan masyarakat seperti berpartisipasi dalam permbersihan dan perbaikan saluran air, meningkatkan kapasitas tampungan air dan memanen hujan, serta memangkas ranting pohon yang berlebih ataupun rapuh, berhati-hati dan memperhatikan tingkat kekuatan papan reklame dan jembatan penyebarangan, dan lebih perhatian terhadap perkembangan cuaca yang dinamis dan cepat.

Untuk bisa mengakses informasi lebih lanjut, masyarakatbisa membuka akses informasi BMKG melalui https://bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg.

Penulis : Harshan/mediakita.co