Damar Wulan, Sebuah Kisah yang Tersimpan di Gunung Mendelem Gunung Mendelem (Jimat), Pura Sejarah Pemalang Yang Tersimpan (Part 3)
Damar Wulan, Sebuah Kisah yang Tersimpan di Gunung Mendelem

Oleh : Bambang Mugiarto

Saat Damar Wulan akhirnya harus mengakui kadigjayaan Minak Jinggo dalam pertarungan berdarah tempo hari, tak berarti semua impiannya telah kandas. Luka di tubuhnya memang tak begitu parah. Tapi sudah tiga hari, Damar Wulan belum bisa bangun.

Di atas lincak bambu, sekujur tubuhnya nampak masih dibalut dengan tumbukan daun ramuan yang sudah mengering. Bentuknya sudah keliatan retak-retak, dan warnanya juga sudah menghitam. Ia seperti kuda paling tangguh dengan leher terlingkar kekang. Tidak berdaya namun sulit ditaklukan.

Sekitar 20 depa tangan dari sana, persis di samping pohon karet yang akarnya selebar perut kerbau, di atas batu, Ki Tunggul Manik duduk bersila. Mematung dengan kedua bola mata terpejam. Telapak tangannya menggenggam. Sikut tangannya tak sedikitpun menekuk, lurus memanjang hingga melewati tekukan sendi lututnya. Dari jauh, pendar-pendar sinar merayap di tubuhnya. Gelap malam yang merauti bumi pucuk Gunung Mendelem, gagal memadamkan kilau cahaya di tubuh Ki Tunggul Manik.

Damar Wulan terbatuk lirih. Tapi Ki Tunggul Manik  mendengarnya dengan jelas. Suara batuknya menembus telinga. Tidak ada suara yang lolos dari telinga sakti Tunggul Manik. Batuk itu lebih keras dari suara dengung nyamuk, detak jantungnya sendiri, dan suara-suara isi hutan malam yang sebelumnya mengiringi seluruh waktu meditasinya. Di kejauhan, suara ayam berkokok. Pertanda fajar telah bersiap merias langit.

Lelaki tua itu bangkit dari meditasi. Bergegas menuju sumber suara. Sejak kecil, Damar Wulan memang telah dilatih berbagai ilmu miliknya. Ia tidak sekadar murid, lebih dari itu, ia bahkan telah dianggap sebagai anak sendiri. Pelan-pelan Damar Wulan membuka mata, persis sesaat ketika Ki Tunggul Manik menyambar salah satu gelas bambu yang terjatuh di tanah.

“Syukurlah, kamu sudah sadar nak,” katanya dengan suara seperti bergetar ditahan dalam tenggorokan. Dalam dan berwibawa.

“Ya,” jawabnya nyaris tak terdengar. Damar Wulan menarik tubuhnya. Ingin bangkit mencium tangan sang guru. Ki Tunggul memberi isyarat berhenti.

“Kamu harus minum ini, agar tenagamu segera pulih,” kata sang guru sambil mengambil air berisi ramuan yang sudah disiapkan sejak dua hari lalu. Jemari tangannya tampak sudah sedikit gemetar saat memegang batok kelapa. Damar Wulan mencoba mengangkat badan lagi.

“Jangan, jangan bangun dulu, cukup angkat sedikit kepalamu saja, tunggu sampai besok setelah baluran ramuan ini dibersihkan,” pinta sang guru. Dengan satu tangan, ia miringkan batok kelapa mengarah ke mulut sang murid. Tangan satunya dipakai mengangkat kepala sang murid.

Damar Wulan tidak menolak. Ia hanya manut dan sedikit mengangkat kepalanya sambil memandangi ayah dan gurunya itu dengan mata sedikit melotot ke sebelah. Kulit wajahnya begitu pucat, namun tubuhnya nampak begitu kekar. Dadanya lebar dan lengan tangannya besar.

Berhari-hari berikutnya, ketika petir dan hujan pergi meninggalkan musimnya, Damar Wulan telah pulih seperti sedia kala.

Setelah mandi, Damar Wulan tidak langsung kembali ke persinggahan gurunya, di Gunung Mendelem. Ia memilih duduk di atas sebongkah batu, persis di depan jalan setapak yang tadi ia lalui saat berangkat menuju ke Tuk Batur.

“Ini sudah yang kelima, artinya sudah selesai,” gumamnya dalam hati. Wajahnya menengadah ke langit, ia menafsir cahaya bulan. Mencoba mencari tahu, sudah berapa lama ia menghabiskan malam.

Sejak matahari terbenam, ia sudah beberapa kali mandi. Yang pertama  di Tuk Setu. Setelah itu, ia langsung bergegas ke Tuk Bengkawah, Tuk Silating, dan Tuk Telaga, untuk menyelesaikan perintah gurunya, Ki Tunggul Manik. Di malam Selasa Kliwon ini, ia harus mandi di tuk lima yang sumber mata airnya berasal dari Gunung Mendelem.

Selama perjalanan dari tuk satu ke tuk lainnya, ia sering harus berlari-lari kecil demi mengejar waktu yang harus selesai satu malam. Sebetulnya badanya masih sedikit lemas. Tiga hari lalu ia baru saja menyelesaikan puasa ngebleng. Tapi demi tekadnya memenangi sayembara Ratu Kencana Wungu, untuk mengalahkan Minak Jinggo, ia teguhkan hati melakukan semuanya sekuat tenaga. Seperti disebutkan di awal, ia memang seekor kuda tangguh.

Beberapa menit, Damar Wulan terus menatapi rembulan. Berhias cahaya bulan, langit jadi begitu indah. Melihatnya, pikirannya dikekang paras Anjasmara, kekasihnya. Seorang putri cantik, anak Patih Loh Gender. Tempat dirinya mengabdi. Ia dicabik-cabik rindu. Dipikir-pikir, asmaranya dengan Anjasmara mirip dengan cahaya bulan. Begitu jauh. Sampai hampir tidak tergapai. Damar tahu, ia hanya tukang rumput, hanya seorang pesuruh keluarga sang patih.

(Lanjut ke halaman : 2)

Selapis kain putih ia tarik dari lipatan sabuk kainnya. Hanya itu satu-satunya benda yang menghubungan dirinya dengan Anjasmara. Kain itu pemberian Anjasmara sesaat sebelum ia pergi.

“Simpan baik-baik kain ini,” kata Anjasmara ketika itu usai babak belur dihajar Minak Jinggo. Ada kalanya Damar Wulan begitu bersyukur bisa kalah dari duel melawan Minak Jinggo. Kekalahan itu menuntun naluri Anjasmara menyeka darah di pelipisnya.

Sampai detik ini, bekas darah masih membekas di kain itu. Tidak bisa hilang meski dicuci berkali-kali.

“Diajeng… tidak akan lama lagi, aku kembali. Aku juga akan membuktikan kepada ayahandamu, Ndoro Patih, dan juga Ratu Kencana Wungu, bahwa aku bisa mengalahkan Minak Jinggo. Dan itu artinya, aku akan menjadi raja Majapahit,” tuturnya dalam hati, sambil meremas erat kain pemberian gadis yang dicintainya.

Damar Wulan masih belum beranjak dari duduknya. Pikirannya menerawang jauh, sejauh impian-impian yang sedang ia perjuangkan. Selaksa bongkahan batu tempat dia duduk bersila, hatinya makin teguh di jalan ini. Jalan yang tengah ia tempuh dan perjuangkan, dalam lelaku batin dalam bimbingan sang ayah. Sang guru segala ilmu kanuragannya.

Air dari tuk batur terlihat mengalir berloncatan, seperti saling berkejaran, bergerak melinang seperti sedang mencari tempat di antara rongga-ronga bebatuan. Bunyinya memercik begitu nyaring, seperti suara gelak tawa, atau bahkan rintihan tangis rindu dua hati yang tengah terpisahkan.

“Aku bersumpah, aku harus bisa mengalahkan Minak Jinggo. Apapun caranya, demi kau diajeng Anjasmara. Demi Ayahmu, dan demi Ratu Kencana Wungu, dan demi Majapahit,” sumpahnya dalam hati. Namun lantang.

Sebagai seorang abdi kinasih, karena kepandaiannya, ketika pada tahun Majapahit bergolak (Tahun 1429-1447), ia ditugaskan Sang Mahapatih, untuk mengikuti sayembara ini. Atas perintah Patih Loh Gender juga, ia kini mengemban tugas berat dari Ratu Kencana Wungu untuk mencari cara untuk mengalahkan Minak Jinggo sang penguasa Blambangan, yang diketahui akan melakukan pemberontakan kepada Majapahit, setelah pada pertarungannya beberapa waktu lalu, ia kalah telak.

Menjelang fajar, Damar Wulan tiba di puncak Mendelem. Ia melapor kepada sang guru, bahwa tugasnya berhasil diselesaikan. Bahkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

“Baiklah, kalau begitu besok kita kembali ke Majapahit. Saya sudah dapat wisik (petunjuk lewat mimpi), bagaimana caranya mengalahkan Minak Jinggo,” kata Ki Tunggul Manik.

Inggih guru.”

“Tapi ingat, kamu harus lebih dulu bertemu dengan para selir Minak Jinggo. Karena hanya mereka lah yang bisa menunjukkan itu.”

“Maksud Romo ?” tanya Damar Wulan.

“Saya sendiri tidak tahu persis, tapi menurut wisik yang saya terima begitu. Untuk bisa mengalahkan Minak Jinggo, kamu harus bertemu dengan para selirnya.”

“Hanya dengan cara itu?”

“Iya, hanya itu caranya.”

Damar Wulan terdiam. Ia belum tahu bagaimana caranya bisa bertemu para selir lawannya. Ia juga tak mengerti mengapa harus bertemu para selir penguasa Blambangan itu. Ia berharap, Ki Tunggul Manik dapat memberinya cara lain. Cara yang lebih mudah. Cara yang tidak berbelit-belit. Bahkan ia berharap, dapat diberikan ilmu kanuragan baru. Ilmu kanuragan pamungkas. Ia percaya gurunya memilikinya.

“Ampun guru,” selanya tiba-tiba memecah lamunan.

“Apakah tidak ada cara lain?” Pertanyaan itu ia sampaikan dengan harapan ayahnya mau memberikan cara lain.

“Ketahuilah anakku. Ajian Gada Wesi Kuning adalah ajian yang belum ada seorangpun mampu mengalahkannya. Itu artinya, saat ini belum ada seorangpun tahu, ilmu kanuragan apa yang mampu menandinginya. Bahkan Kebo Mercuet, pemberontak yang dikenal sakti mandraguna, tan  tedas tapak paluning pande (sangat sakti, tidak mempan oleh pukulan palu tukang pande besi), kalah oleh Minak Jinggo. Kebo Mercuet tewas remuk di hadapan ajian Gada Wesi Kuning itu,” jelasnya.

“Bukankah kamu juga sudah merasakan?” tambah sang guru.

“Inggih Romo.”

“Dan satu hal yang harus kamu ketahui. Sayembara ini juga memiliki nilai yang sepenuhnya baik. Tekanan Minak Jinggo kepada Majapahit, tidak semestinya terjadi jika Ratu Kencono Wungu tidak ingkar janji.” Kali ini, Ki Tunggul Manik menyampaikan dengan nada suara penuh semangat.

(Lanjut ke halaman : 3)

Ada kesan dongkol di wajah Ki Tunggul Ma nik. Dia menilai, sikap Ratu Kencana Wungu mengingkari janjinya merupakan sikap tidak terpuji. Apapun alasannya. Bahwa fisik Minak Jinggo tak tampan lagi, itu risiko dari sebuah sayembara. Apalagi, cacat fisiknya Minak Jinggo karena mengikuti sayembara itu. Sebuah pengorbanan sangat mahal yang sia-sia. Wajar, jika Minak Jinggo harus melawan. Karena hal itu sebagai hak yang harus diperjuangkan.

“Jadi, maksud Romo guru?”

“Sabdo Pandita Ratu Tan Kena Wola-Wali!” jawabnya memberi wejangan, dengan jari tangan menunjuk tegak. Raut mukanya makin serius.

Damar Wulan takzim mengikuti setiap kata yang meluncur dari mulut Ki Tunggul Manik. Ia tahu, gurunya tak setiap waktu memberi Wejangan (arahan). Hanya sesekali saja. Itupun jika ada hal-hal yang dianggap penting dan perlu. Sebagai seorang bergelar Resi, ia memiliki cara pandang dan perilaku yang selalu memiliki pesan keteladanan.

Ki Tunggul Manik adalah saksi hidup sayembara itu. Ia mengisahkan, ketika suara gong bergema saat Ratu Kencana Wungu menggelar sayembara. Dengan lantang kemudian diumumkan, barang siapa bisa membunuh Kebo Mercuet, sang pemberontak yang bernafsu menggulingkan Sang Ratu dari tahtanya, maka ia akan dijadikan suami dan Raja Majapahit.

Jangankan menjadi raja. Untuk sekadar menjadi suaminya pun, Ki Tunggul Manik meyakini akan banyak ksatria yang mengikuti. Kecantikan Kencana Wungu saja hampir pasti bisa menjadi magnet bagi setiap kaum Adam. Siapapun itu, sudah barang tentu akan menagih janjinya. Siapapun itu, akan diperjuangkannya. Tak terkecuali bagi Minak Jinggo.

“Nyadong dawuh romo guru.”

“Ini sudah menjadi takdirmu anakku.”

“Dan tentang itu, Ratu Kencana Wungu telah mengetahuinya.” Damar Wulan mengerutkan alisnya. Pernyataan Ki Tunggul Manik kian menyisakan pertanyaan. Tetapi ia segan untuk menanyakan. Ia memilih terus menunggu. Berharap Ki Tunggul Manik akan menjelaskannya.

“Inggih romo.”

“Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, para selir  Minak Jinggo itu, adalah takdir jalan kematian Minak Jinggo. Dan itu jalan yang harus kau tempuh. Jalan yang akan mengantarkanmu melawan Minak Jinggo.”

“Maaf romo guru, apakah itu artinya Wahita dan Puyengan yang akan membunuh Minak Jinggo?”

“Saya tidak tahu pasti.“

“Tapi dalam wisik yang saya terima, kamu harus menemuinya. Dengan cara itulah, kamu bisa mengalahkan Minak Jinggo.”

“Lalu bagaimana dengan pesan nilai dari perjuangan Minak Jinggo bapak guru? Bukankah dia sedang memperjuangkan haknya?“

“Kamu benar. Bahkan Minak Jinggo sedang memperjuangkan martabatnya. Memperjuangkan harga dirinya yang terkoyak. Tapi biarkan hal itu menjadi tanggung jawab Ratu Kencana Wungu dan Minak Jinggo.”

“Maksud romo guru?” Kali ini, mulut Damar Wulan seperti tak terbendung.

“Tugasmu satu. Membela raja! Dan itu menjadi kewajibanmu sebagai rakyat dan ksatria Majapahit.

Karena itu juga sebuah nilai. Sebuah keluhuran yang harus dijunjung tinggi.”

“Eeee…”

“Ini takdirmu anakku!“

“Sudah ginaris. Kaulah ksatria satu-satunya yang terpilih untuk Menaklukan Minak Jinggo,” tegasnya.

Damar Wulan tertunduk. Di hatinya bergelayut rasa yang tak terjangkau oleh nalarnya. Ada rasa bangga. Tapi juga bimbang. Karena wejangan yang disampaikan gurunya masih menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Menyisakan rahasia yang membuat jiwanya seperti berlayar dalam samudra misteri. Samudra yang jauh dari pandangan mata. Tapi gelombang lautnya begitu terasa.

Dalam palung-palung hatinya, bertengger beragam rasa yang menjelajahi samudra rahasia. Ia Bahkan seperti sedang melingkar-lingkar dalam pusaran air laut yang tengah dijelajahi. Laut rahasia. Laut nilai dan rasa yang menggurita selaksa impian bulan purnama. Bulan yang sinarnya seperti hendak membakar jiwa.

Ada semangat baru. Ada risau. Ada kebanggaan yang tak terjamah dengan kekuatan pikirnya. Wejangan bapak gurunya telah memapahnya dalam banyak ruang gelap yang harus diurai menurut takdirnya. Ruang yang harus dititi dalam garis-garis tangannya. Dan semua itu, membuat ia larut dalam perbincangan yang hanya didengar oleh isi ruang batinnya sendiri.

(Lanjut ke halaman : 4)

“Ampun romo guru. Dulu guru pernah mengingatkan untuk berhati-hati dengan kebaikan Ndoro Patih Loh Gender. Jika diperkenankan, saya mohon, bisakah saat ini guru jelaskan maksudnya?“ tanya Damar Wulan. Gelombang lautan tanya yang bertaut di hatinya memberi kekuatan. Seketika mulutnya melepas kata tanya. Sebelumnya, ia tak berani melakukannya.

Ki Tunggul Manik memang pernah mengingatkan anak asuhnya. Ketika itu, dia meminta Damar Wulan untuk menjaga lengah. Karena kebaikan Patih Loh Gender tidak seperti yang ia lihat. Namun saat itu, Ki Tunggul Manik berjanji akan menjelaskan jika sudah tiba waktunya. Dan sejak lama, ia telah menunggu waktu yang dijanjikan itu. Tapi setiap kali bertemu, ia tidak berani menanyakannya. Ia berpikir, Ki Tunggul Manik akan menyampaikan sebagaima janjinya. Jika sudah tiba waktunya.

“Baiklah. Mungkin saat inilah waktu yang paling tepat. Karena setelah ini, kamu akan melewati kehidupan baru. Kehidupan dengan jalan yang engkau impikan.”

“Nuwun romo guru.”

“Ketahuilah. Sesungguhnya lah, penyebab ayahmu tersingkir dari  kepatihan, tak lain karena fitnah yang dibuat Patih Loh Gender. Dan karena perbuatan Loh Gender juga, ibumu harus kembali ke alam fana,” tuturnya dengan suara tersumbat.

Bak disambar petir di siang bolong. Betapa terkejutnya dia. Ternyata orang yang selama ini sangat dihormati, tak lebih hanya seorang pecundang. Bahkan seorang berhati biadab. Orang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Orang yang telah membuat ibunya harus meregang nyawa.

“Biadaaaab!“ Serunya sekuat-kuatnya dengan suara tertahan. Jantungnya berdebar begitu keras. Mukanya merah menghitam. Darahnya tiba-tiba seperti mendidih. Akal dalam kepalanya lepas bersama amarah.

“Inilah takdirmu yang lain anakku. Terimalah semua ini sebagai garis tanganmu dengan seluruhnya. Biarkan takdirmu bekerja di jalan yang telah ditentukan. Sebab kamu tidak bisa menolaknya. Semua sudah menjadi kehendak-Nya,” katanya mencoba menenangkan.

“Dan sesungguhnya lah, Patih Loh Gender adalah pamanmu sendiri. Adik ayahmu, Patih Udara,” jelasnya. Lagi-lagi, setiap-kata Ki Tunggul manik seperti merobek-robek jantung hatinya.

Damar Wulan begitu terpukul mendengar fakta-fakta itu. Ia tak menyangka. Tak pernah terbayangkan bahwa ternyata biang dari segala petaka dalam hidupnya berada di depan matanya. Orang yang setiap hari dilayaninya. Orang yang ia hormati. Dan orang yang menjadi ayah dari wanita yang ia cintai.

Tak kuasa meredam amarahnya. Damar Wulan berteriak keras-keras. Tangannya memegang kepalanya sambil menjambaki rambutnya sendiri.

“Bedebaaah. Bangsat kamu Logender!” umpatnya. Ia menangis tak kuasa menahan sakit di hatinya. Sedu sedan tangisnya, seperti didengar langit. Awan bergumpalan menyelimuti pagi. Dalam fajar yang kehilangan sinarnya.

Ki Tunggul Manik seperti sedang membiarkan anak angkatnya meluapkan segala amarah di hatinya. Ia terdiam. Tak ada satu katapun yang terucapkan. Meski Damar Wulan menangis, berteriak dan mengumpat habis-habisan. Mimiknya seperti orang gila. Matanya melotot. Mulutnya mencibir. Tangannya kosongnya menggenggam kuat-kuat.

“Sudahlah, tenangkan hatimu nak. Sopo nandur bakal ngunduh. Serahkan semua ini kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sura Dira Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti, wejangnya menenangkan anak angkat dan muridnya itu.

“Ketahuilah, bahwa setiap manusia akan mendapatkan imbalan dari apa yang telah diperbuatnya. Kehidupan adalah tentang kita sendiri. Untuk itu, tenangkan hatimu. Kita harus segera bersiap untuk kembali ke Majapahit. Segera temui para selir Minak Jinggo dengan caramu. Karena di situlah takdirmu dimulai,” jelasnya menenangkan.

*****

Sudah dua hari, Damar Wulan menghabiskan lebih banyak waktunya di belakang Pesanggrahan Mardakaripura. Pesanggrahan milik Resi Tunggul Manik.

Sejak perjalanan dari Gunung Mendelem, Damar Wulan masih terguncang hatinya. Ada segumpal dorongan rasa berontak. Dorongan rasa tidak bisa menerima fakta-fakta baru yang ia temukan di setiap helai dari catatan buku harian perjalanan hidupnya.

Perjalanan hidup keluarganya yang penuh batu terjal. Penuh dengan jalan yang berliku. Sejauh itu, Damar Wulan belum menemukan jawaban mengapa para selir Minak Jinggo yang akan membawanya dalam kemenangan melawan Minak Jinggo.

Berita kembalinya Damar Wulan ke Pesanggrahan ke Mardakaripura, dalam waktu dua hari telah menyebar ke seluruh penjuru Majapahit. Bukan tanpa alasan. Karena kembalinya Damar Wulan ini menyiratkan banyak hal. Selain menjawab teka-teki hidup dan matinya setelah kalah bertarung dengan Minak Jinggo, berita kembalinya Damar Wulan Juga melahirkan teka-teki baru.

Minak Jinggo tentu tidak tinggal diam. Penguasa Kadipaten Blambangan yang kesohor dengan kedigjayaannya itu pasti mencarinya. Ia tidak akan membiarkan setiap orang yang telah melawannya. Tak ayal, pasukan prajurit Minak Jinggo datang menjemputnya. Damar Wulan ditangkap dengan tuduhan melawan sang Adipati.

Mendengar upaya penangkapan dirinya, tersirat dalam benaknya untuk memanfaatkannya. Damar Wulan berpikir itulah caranya untuk bertemu dengan selir Minak Jinggo. Penangkapan berlangsung singkat. Damar Wulan menerima tanpa perlawanan.

Ternyata benar apa yang dipikirkan. Hanya dalam beberapa hari, ia berhasil mencuri perhatian para selir Minak Jinggo. Ketampanan Damar Wulan telah memikat hati Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, selir Minak Jinggo. Keduanya jatuh cinta.

Karena rasa cintanya yang begitu dalam, Dewi Wahita danDewi Puyengan rela mencuri pusaka suaminya. Atas permintaan Damar Wulan, pusaka itu diambil di saat Minak Jinggo sedang tidur. Damar Wulan berhasil mendapatkan Pusaka Gada Wesi Kuning.

Esok harinya, Damar Wulan kembali melayangkan pesan tantangannya. Ia meminta Minak Jinggo kembali bertarung dengannya. Mendengar tantangan itu, Minak Jinggo langsung menyambutnya. Damar Wulan digelandang ke alun-alun. Pertarungan kembali digelar.

Dengan kesaktiannya, Minak Jinggo langsung melepaskan pukulan jarak jauh bertubi. Damar Wulan jatuh tersungkur mencium tanah. Namun pusaka Gada Wesi Kuning di tangannya, membuat Damar Wulan Kembali bangkit. Ia langsung menghantam Minak Jinggo dengan pusaka itu. Dan seketika itu, Minak Jinggo tewas di tangannya.

Damar Wulan berhasil menundukan Minak Jinggo dengan pusaka Gada Wesi Kuning. Berhasil mengalahkan Minak Jinggo, Damar Wulan disambut dengan tepuk sorak yang menggempita. Pertarungan itu berlangsung layaknya tontonan pertunjukan. Prajurit dan rakyat Majapahit berjejal di sekeliling alun-alun. Mereka berbaur jadi satu. Seperti layaknya pahlawan, kemenangan Damar Wulan disambut oleh Ratu Kencana Wungu dengan suka cita.

Sebagaimana dalam sayembara, Damar Wulan diangkat jadi raja dan sekaligus suami Ratu Majapahit. Ratu Kencana Wungu. Ia juga ikut memboyong kedua selir Minak Jinggo yang telah berjasa atas kemenangannya ke istana Kerajaan Majapahit.