Inspiratif: Kisah ‘Driver Grabcar’ yang Menulis Buku Di Atas Roda hingga Lulus S2 dengan Predikat Summa Cumlaude
Piter Randan Bua (Tengah) Bersama Teman Seperjuangannya

Semarang, mediakita.co – Mungkin beberapa di antara kita sudah akrab dengan nama Piter Randan Bua. Ia adalah penulis buku best seller; Berkaca pada Kepemimpinan Ahok dan The Ahok Way Hidup Adalah Kebenaran dan Mati adalah Keuntungan. Ia juga bersama penulis lain menerbitkan buku; Jokowi (bukan) Untuk Presiden dan Ahok untuk Indonesia.

Dua tahun lalu tepatnya 2017 memilih keluar dari tempat kerja untuk melanjutkan studi di Magister Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Sembari menggeluti profesi sebagai mahasiswa dan penulis lepas di beberapa media, ia juga menggeluti profesi sebagai driver berbasis aplikasi online ‘grabcar’.

Menurut pengakuannya ia memilih profesi menjadi driver taksi online karena kerjanya fleksibel cocok untuk mahasiswa seperti dirinya. Ia semakin tertantang menjadi driver grabcar saat mendapat tugas kuliah dari salah satu dosennya yang mewajibkan setiap mahasiswanya terlibat langsung di akar rumput untuk merasakan apa yang masyarakat rasakan.

‘Saya memilih profesi jadi driver taksi online itu karena kerjanya fleksibel, cocok untuk mahasiswa seperti saya, bisa on dan off kapan saja tanpa ikatan. Saya semakin tertantang ketika salah satu dosen saya menugaskan kami yang mengambil mata kuliahnya harus terlibat langsung di akar rumput untuk merasakan suka duka yang dialami oleh masyarakat. Ada yang memilih jadi pemulung, pengamen, tukang parkir, penjual koran, dll. Saya kan ada odong – odong, kebetulan dapat mobil dari hasil jual buku mas hehehe, jadi kenapa tidak aku coba jadi driver online’ kisahnya kepada mediakita.co

Berdasarkan penuturannya selama menggeluti profesi sebagai driver grabcar ia selalu membawa buku dan laptop di mobilnya. Ia menggunakan waktu kosong saat menunggu orderan untuk membaca buku dan menyelesaikan tugas – tugas kuliahnya. Selain itu ia memanfaatkannya untuk menulis berita dan artikel – artikel untuk dikirim ke beberapa media dan jurnal.

‘Di mobil kan saya selalu bawa buku – buku bacaan dan laptop, saat menunggu order saya gunakan untuk membaca buku dan menulis tugas – tugas kuliah saya. Kadang – kadang juga menulis berita dan artikel untuk beberapa media, jadi banyak karya saya itu lahir di atas mobil mas’ tuturnya.

BACA JUGA :  Petisi Minta Eggi Sudjana Ditangkap Muncul di Change.Org

Salah satu buku karyanya yang terbit 2017 yang sebagian ditulis di atas mobil adalah bukunya yang berjudul, ‘Friendly Leadership: Kepemimpinan yang Menenpatkan Kemanusiaan Di Atas Tujuan Apa pun’. Buku itu telah beredar di pasaran dan dapat dijumpai di toko – toko buku baik konvensional maupun online.

Menurutnya pekerjaan sebagai driver online itu adalah pekerjaan yang sangat mulia dan sekolah kehidupan yang luar biasa. Menurutnya jika ingin belajar kesabaran, mengerti bermacam – macam karakter manusia hingga belajar hal – hal yang luar biasa dan inspiratif dari banyak orang jadilah driver online.

‘Kadang – kadang itu kita diperlakukan seenaknya oleh customer, seperti sopir pribadinya, dibentak dan dimarah – marahi, menunggunya terlalu lama, masuk gang – gang sempit, hingga dinon ktifkan sementara oleh penyedia aplikasi karena laporan customer yang tak puas dengan pelayanan kita. Jadi kalau mau latihan kesabaran jadilah driver online’ imbuhnya sambil terkekeh – kekeh.

Tak hanya itu lanjutnya, ‘Di samping latihan kesabaran menjadi driver online, kita juga bisa belajar gratis tentang bisnis, kehidupan, kepemimpinan, dll. Karena yang naik di mobil kita itu kan macam – macam ada bisnismen, ada pejabat, ada orang sakit, ada orang sehat, ada orang terpelajar, ada petani dll. Jadi kita bisa belajar gratis dari mereka’ ungkapnya lagi.

Menurut Piter menjadi driver onlie itu bukan sekedar tentang uang tapi tentang kemanusiaan dan menolong orang lain. Ia berkisah tentang seorang yang ditolongnya ke rumah sakit.

‘Suatu saat saya susah tidur dan terbangun dini hari karena susah tidur saya manfaatkan waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa, lalu saya iseng on pagi – pagi. Saya ingin coba ada gak yang order pagi – pagi, waktu itu kira – kira jam empat subuh. Begitu aplikasi saya hidupkan beberapa menit kemudian ada order yang masuk. Sebelum saya kirim pesan, langsung ada telepon. ‘Pak tolong jangan dicancel ya, ini saya sudah beberapa kali dicancel, ini bapak saya tidak sadarkan diri, jatuh saat bangun mau sholat mau ke rumah sakit’. Saya terenyuh dan segera meluncur ke lokasi dan benar seorang bapak yang sudah sepuh tak sadarkan diri, cepat – cepat dinaikkan ke mobil dan membawanya ke Rumah Sakit. Sepanjang jalan istri dan anaknya terus menangis sementara saya berharap segera tiba di RS’ kisah Piter.Piter juga berkisah bahwa ia kadang – kadang bermalam dalam perjalanan terutama jika perjalanan jauh ke luar kota.

BACA JUGA :  Gempa M 7,3 Guncang Maluku Tenggara Barat

‘Saya beberapa kali tidur di pom bensin karena sudah terlalu lelah untuk perjalanan pulang. Saya pernah tidur di Pom Bensin Purwodadi, Yogyakarta dan Solo karena tak kuat lagi perjalanan pulang, jadi subuh – subuh baru jalan pulang ke semarang’ katanya.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa acapkali mendapat perlakuan kasar dan dipalak oleh preman – preman dalam perjalan tapi semua itu dilakoninya dengan sabar. Bahkan menurutnya semua kisahnya selama ngegrab rencananya akan dikisahkan dalam bentuk buku bertajuk, ‘Spion: Cerita

Kehidupan Di Atas Roda’. Ia berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia dapat menyelesaikannya.

Setelah melalui perjuangan yang berat menjalani profesi sebagai driver grabcar untuk biaya studi dan memenuhi kebutuhan sehari – hari bersama istri dan anaknya akhirnya pria yang berulang tahun besok 20 Oktober ini di wisuda 19 Oktober 2019. Ia di wisuda bersama 982 winisuda lainnya dengan predikat ‘Summa Cumlaude’. Dengan demikian sang driver grabcar ini berhak atas gelar ‘Master Sains’ dalam bidang Sosiologi Agama.

Piter berucap, ‘Wisuda ini adalah kado ulang tahun saya yang sangat berharga, semoga Tuhan memakai saya untuk kemulian-Nya’.

Penulis : Teguh Santoso/mediakita.co