Update Positif Covid-19 Sabtu 28 Maret Capai 1.155, Beruntung Korsel Beri Prioritas APD Ini Ke Indonesia Selain AS dan UEA
Kasus Positif Covid-19 Sabtu 28 Maret Capai 1.155, Beruntung Korsel Beri Prioritas APD Ini Ke Indonesia Selain AS dan UEA

NASIONAL, mediakita.co– Pemerintah perbarui data kasus virus corona di Indonesia. Sampai hari ini, pasien yang positif corona bertambah 105 atau total menjadi 1.155 kasus positif corona.

“Total kasus menjadi 1.155,” kata juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan di saluran YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (28/3/2020).

“Kemudian pasien yang sudah sembuh dan diijinkan pulang, bertambah 13 orang. Sehingga total menjadi 59 orang,” katanya.

Yuri menambahkan bahwa kasus kematian bertambah 15 orang atau total kematian menjadi 102 orang.

“Kemudian dilaporkan kasus kematian pada perioden ini sebanyak 15 orang, sehingga total kematian menjadi 102 orang” tambahnya.

Data ini dikumpulkan pemerintah hingga pukul 12.00 WIB hari ini.

Sementara, seiring dengan terus melonjaknya kasus di dunia, termasuk Indonesia, saat ini negara-negara di dunia tengah berlomba mendapatkan produk penanggulangan pandemi virus corona. Dari produk alat pelindung diri (APD) yang langka dipasaran, test kit, hingga produk lainnya yang dibutuhkan.

BACA JUGA :  VIDEO: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Senilai 8 Miliar Lebih

Korea Selatan menjadi negara produsen yang paling diincar oleh ratusan negara dunia untuk mendapatkan prioritas. Dengan segala kekuatan pengaruhnya, negara-negara tersebut kini berlomba untuk mendapatkan produk-produk tersebut tak terkecuali Indonesia.

Beruntung, Indonesia dapat angin segar karena masuk dalam tiga negara yang menjadi prioritas. Korsel memutuskan memberi prioritas kepada tiga negara ekspor produk mereka yaitu Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia.

Keputusan itu disampaikan oleh pejabat Kemlu Korsel pada Jumat (27/3). Sehari setelah pertemuan pertama tim antarlembaga yang dibentuk pemerintah untuk mendiskusikan keseimbangan antara permintaan domestik dan ekspor barang-barang karantina yang bersifat kemanusiaan.

“Negara yang kami prioritaskan adalah AS, karena telah ada lonjakan infeksi baru di sana, dan Presiden Donald Trump juga telah membuat permintaan sendiri kepada kami, sementara AS belum melarang masuknya warga kami, dan telah mencapai kesepakatan pertukaran mata uang dengan Korea Selatan,” kata pejabat itu, dikutip dari kumparan.com, seperti dilansir The Korea Herald.

 

https://www.youtube.com/watch?v=ZbOxWWrszZs

BACA JUGA :  Pastikan Keamanan Perayaan Paskah, Wakil Bupati dan Forkampinda Pantau SeJumlah Gereja di Pemalang