Koperasi Sebagai Alternatif Bukan Pengganti, Apa Jadinya?
Logo dan ikon koperasi pada salah satu kantor koperasi bersama. FILE/Ist

NASIONAL, mediakita.co – Menurut Maurice Cranston , 1969, ideologi adalah suatu bentuk filsafat sosial atau politik yang di dalamnya terdapat unsur-unsur praktis yang menonjolkan teorinya. Ini adalah sistem ide yang bercita-cita untuk menjelaskan dunia dan cara mengubahnya.

Dalam seminar yang dihadiri oleh Suroto selaku pembicara sekaligus ketua AKSES (Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis) mengatakan bahwa sistem kapitalis tidak bisa memberikan kesejahteraan dalam hidup, Kamis, (18/02/21).

“Sistem liberalisme atau kapitalisme dengan “Invisble Hands” Smithiannya hanya meghasilkan kesenjangan, kerusakan alam, ketidakberdayaan juga tak dapat tangani pasar ketika mengalami stagflasi,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa koperasi melawan kapitalisme, hal ini terjadi karena koperasi sampai hari ini menjadi kekuatan besar dengan empat poin yang menjadi dimensi koperasi, salah satunya adalah mengenai dimensi gerakan perubahan sosial yang memuat, Perjuangan nilai keadilan, persamaan, demokrasi, perdamaian.

“Dalam hal ini semua orang punya hak satu suara karena adanya persamaan, dan yang lebih penting dalam dimensi koperasi karena adanya dimensi wahana individualitas yang membangun kepribadian, pendidikan, dan lain-lain,” jelasnya.

BACA JUGA :  Koperasi Raksasa Mondragon, Lawan Tanding Korporasi Kapitalis

Suroto juga mengatakan bahwa modal hanya sebagai alat bantu bukan penentu yang menjadikan hal tersebut sebagai alasan adanya koperasi.

“Modal hanya sebagai alat bantu bukan penentu, yang mana tujuan koperasi sendiri adalah ingin mencapai perdamaian bukan permusuhan,” tuturnya.

Dalam diskusi webinar yang dipandu oleh Wellyalina selaku anggota dan Pendiri KMDM (Koperasi Mandiri dan Merdeka) memunculkan salah satu pertanyaan dari peserta mengenai bagaimana membangun koperasi di pedesaan.

“Cara yang pertama untuk mengubah mindset orang adalah dengan cara praktik, sedangkan untuk strategi untuk memabangunnya adalah dengan cara bangun literasi keuangan, kemudian uang tersebut nantinya akan ditaruh di lembaga keuangan milik sendiri,” terangnya.

“Mengapa seperti itu? Karena dari mana modal itu berasal, maka di situlah nilai tambahnya pergi,” imbuhnya.

Suroto di akhir presentasinya mengatakan bahwa koperasi hadir untuk kemanusiaan, agar lebih adil, bahkan bukan untuk permusuhan.

“Koperasi sebagai beyond ideologi dan sistem post kapitalisme memiliki relevansi sebagai alternatif bagi dunia mondial yang penuh partisipasi masyarakat luas dalam kendalikan dunia agar lebih adil, damai, dan penuh kemanusiaan,” pungkasnya.