Legenda Nyai Dewi Rantam Sari, Misteri Ratu Pantai Utara di Kerajaan Gaib Gunung Mendelem Oleh : Bambang Mugiarto
Legenda Nyai Dewi Rantam Sari, Misteri Ratu Pantai Utara di Kerajaan Gaib Gunung Mendelem

“Menyusuri misteri Gunung Mendelem bukan hanya perjalanan fisik. Jauh di atas itu, menyusuri Gunung Mendelem adalah perjalanan hati. Saat kau menemukan sedikit, kau malah kehilangan banyak”

Maka demi mengkhidmati hikayat Gunung Mendelem, kau perlu mengosongkan segalanya. Ilmu pengetahuan, pengalaman, nalar, segalanya. Sebab, kau bukan apa-apa di hadapan Mendelem yang tinggi angkuh menyenggol langit.

Perjalanan ini tidak berhenti di kisah Rakai Panaraban dan Damar Wulan. Ibarat formasi rumit pondasi candi, kisah Rakai Panaraban dan Damar Wulan hanya bongkah-bongkah batu kecil penyusun gunung. Masih banyak bongkahan batu lainnya. Batu-batu yang menanti dibongkar, diresapi, dan disusun ulang demi hikmah kehidupan generasi mendatang.

Waktu demi waktu terus mengeja makna. Dari pagi hingga sore. Terus berjalan. Dan juga terus terdiam. Tapi itulah serangkai kisah waktu Gunung Mendelem. Serangkai kisah tanpa kata yang terus memanggil. Namun dalam runtutan waktunya, dari hari demi hari, bulan demi bulan, hingga ratusan tahun berganti, panggilan itu tak juga mendapatkan jawaban. Semua terdiam!

Mengapa bisu? Apakah batu-batu hitam di punggung Gunung Mendelem belum cukup mewakili diam?

Pertanyaan-pertanyaan itu aku telan, ia membentur-bentur dinding kamarku. Kupandangi tumpukan buku yang berantakan di meja, kursi, dan bahkan di atas kasur kamarku. Sudah puluhan buku aku baca, meski tidak selesai semua. Namun pada bab-bab yang berhubungan dengan Majapahit, Mataram Kuno, hingga Mataram Baru tandas terbaca.

Sepulang dari Gunung Mendelem, satu kali, 27 hari yang lalu, aku duduk di depan komputer. Aku harus memulai. Mulai memasuki ruang kesunyian. Memasuki ruang terpencil, menulis. Mendelem memang penuh misteri, tapi bukan berarti ia tidak bisa ditaklukan. Ia harus diikat. Ia harus ditundukkan. Dengan tulisan.

Aku menyadari bahwa satu-satunya cara menulis adalah dengan mengubah caraku melihat dunia. Melihat Gunung Mendelem dari kertas-kertas buku yang berserak, suara-suara yang aku dengar, sikap orang-orang sekitar yang aku lihat, kebiasaan mereka, dan batu-batu hitam yang menggunung.

Baik buruk bukan menjadi alasan. Juga bukan tentang benar dan salah. Tapi menulis tentang Gunung Mendelem adalah jawaban. Mengumpulkan puing-puing kisah, baik mitologi dan legendanya, adalah sautan bahasa atas panggilan dari puncak gunung yang sudah terlalu lama terdiamkan.

Aku ingat suatu siang di kediaman Ki Sulam.

“Di puncak gunung itu ada makam dan petilasan Rakai Panaraban, Damar Wulan, Raden Patah dan Syekh Maulana Magribi,” jelas Ki Sulam, sesepuh dan tokoh spiritual Desa Mendelem.

Sore tadi, aku mendengar penjelasan yang sama dari Mbah Sastro. Penduduk Dukuh Bentar yang tinggal sebelah Barat Gunung mendelem. Ia ada di tepi sungai. Letaknya hanya sekitar 500 meter dari gunung. Cerita itu juga sama dengan naskah bertajuk Menguak Misteri Gunung Mendelem, yang ditulis oleh Daryono, S.Pd.

“Sebelum tragedi tahun 1965. Masyarakat Desa Mendelem masih rutin melakukan ritual malam satu suro. Ritual itu dilakukan penduduk setiap tahun. Dengan tujuan mengadakan komunikasi dengan penguasa Gunung Mendelem atau Gunung Jimat,” katanya mengisahkan.

“Malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh penduduk. Tanpa diperintah oleh siapa pun penduduk merasa punya hak melakukan persiapan-persiapan ritual,” lanjutnya.

Peringatan itu digelar bareng dengan ruwat bumi. Dengan sendirinya, masyarakat berbondong-bondong membawa takir (sejenis wadah yang dibuat dari daun) dan lodong (tempat air dari bambu) untuk mengambil air suci di tuk pakis. Mereka duduk berjajar di kanan-kiri sepanjang jalan jimat.

Di sepanjang jalan itu, mereka melakukan doa bersama. Masyarakat meyakini hal itu sebagai cara untuk menjalin komunikasi dengan roh-roh gaib dan para leluhur desanya. Dan itu menjadi ajang ritual yang mengolah batinnya, agar tetap bersikap eling.

“Sayang, saat ini upacara ritual tersebut terakhir digelar pada menjelang tragedi tahun 1965. Setelah itu, ritual tahunan dilaksanakan lebih sederhana,” ungkapnya.

Mengapa ritual ini berhenti? Itu pertanyaan lain.

Di rumah sederhana lelaki tua yang saat ini menjadi juru kunci, aku dengar informasi serupa. Menurut Kaki Nasir, acara ritual malam satu suro tidak lagi seperti saat juru kunci Gunung Mendelem dipegang ayahnya. Sekarang, peringatan dilaksanakan di forum tahlilan. Namun, acara sesaji masih dipegang teguh. Secara sendiri-sendiri, sebagian besar penduduk Desa Mendelem masih selalu menyiapkan sesaji.  Ada yang berubah.

(Ke hal 2…)

Namun, secara turun temurun, sesaji yang disiapkan sama. Satu gelas kopi manis, satu gelas kopi manis dengan santan, segelas kopi pahit, segelas air teh, segelas air putih dan rokok kretek dua batang. Susur dan nasi puncet atau nasi tumpeng yang kecil disertai lauk ikan bakar. Ada tiga jenis pisang yaitu pisang emas, pisang raja, pisang kapok. Makanan pala pendem yang meliputi ubi jalar, ubi kayu, dan ganyong.

“Sebab dengan melakukan ritual ini, berarti kita telah melakukan dialog dengan Penguasa Gunung Mendelem. Semoga para leluhur berkenan mendoakan kepada Tuhan Yang Maha Esa, supaya penduduk di desa ini mendapat kesejahteraan ekonominya, keselamatan jiwa raganya, kemudahan dalam segala hal, kedamaian dan saling kasih sayang antar sesama,” ujarnya meyakinkan.

“Siapa nama leluhur di Gunung Mendelem kaki?“ aku menyela.

“Banyak!“

“Ada Dewi Rantam Sari, Ki Tunggul Manik, Raden Patah, dan Syekh Maulana Magribi.”

Nama-nama yang selama ini aku baca di buku, juga dari mulut ke mulut, kini jarak mereka seolah dekat denganku. Nama-nama dalam legenda itu seperti sepelemparan tombak jaraknya denganku. Dekat.

Sudah berjam-jam aku di sini. Masih belum cukup. Aku masih saja mencoba menggali segala cerita di balik Gunung Mendelem. Aku terhanyut dalam cerita demi cerita yang ia lontarkan. Dari legenda hingga mitos yang dipercaya masyarakat. Aku terlibat dalam semua pernik-perniknya. Karena aku sudah bolak-balik ke sini. Sudah puluhan warga aku kunjungi. Juga beberapa sesepuh dan tokoh masyarakat yang kompeten.

Entah mengapa, di rumah Kaki Nasir ini, dan juga di tempat Mbah Sulam, tiba-tiba aku merasa menemukan sesuatu yang tidak kasat mata. Mungkin karena percakapan dengan kedua orang itu, aku dijauhkan dari dogma ini atau itu dan cenderung menjadi fanatik. Dogma dan fanatisme yang tak jarang, sugestinya menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri keragu-raguan. Dua orang ini, di mataku, seperti petapa bagi seorang murid. Menuntun mereka yang ingin mencapai misteri Mendelem dengan murni.

Mengikuti jalan ceritanya, aku sedang berjalan menuju Gunung Mendelem. Melakukan dialog dengan orang-orang sekitar, aku mendapati bahwa jagat raya bicara dengan bahasa isyarat-isyaratnya sendiri. Dan untuk memahami isyarat itu, aku cukup melihat dengan pikiran terbuka apa yang terjadi di sekitar kita. Dan itu membuatku bertanya, apakah benar ritual batin satu-satunya pintu menuju misteri-misteri itu?

BACA JUGA :  Jejak Sejarah : Pangeran Purbaya “Banteng Mataram” di Pemalang

Tentu aku tidak bisa menyusuri seluruh jalan ke Gunung Mendelem, sampai ke sudut-sudutnya. Jadi apa lagi berikutnya yang harus aku tulis?

Butuh waktu lama untuk menjawab. Aku mengambil keputusan yang sejak dulu ada di sana menungguku. Kugunakan kisah itu sebagai dasar dari cerita lain tentang angin yang menyusup bersembunyi di rongga-rongga bebatuan Gunung Mendelem. Aku menulis panggilan cerita yang bicara di sana. Menanti kedatanganku, dan memanggil-manggilnya dengan diam. Seperti Legenda Dewi Rantam Sari yang menungguku sementara aku berjalan berputar-putar tak tentu arah.

Dewi Rantam Sari adalah tokoh wanita dari kayangan yang tinggal di kerajaan gaib Gunung Mendelem. Aku mendapat pengakuan beberapa orang yang aku temui. Mereka yakin, Dewi Rantam Sari adalah penguasa gunung-gunung di wilayah itu. Keyakinan itu terwariskan secara turun temurun.

Menurut informasi yang aku terima, Dewi Rantam Sari masih sering menampakan diri. Pada situasi tertentu, sosok yang digambarkan selalu tampil dengan baju kebaya itu masih sering terlihat. Banyak orang yang kadang melihatnya. Jika ingin menemuinya juga bisa. Tapi caranya harus melalui lelaku (jalan atau menjalankan). Lelaku itu bisa melalui semedi atau pertapa di tempat-tempat tertentu di sekitar Gunung Mendelem. Baik di lereng bagian barat, ada Watu Lawang dan Watu Payung.  Atau di candi puncak Gunung Mendelem.

Pada bulan tertentu, dan hari-hari yang dikeramatkan, seringkali ada orang-orang yang melakukan semedi di tempat itu.

Dewi Rantam sari adalah Danyang yang menguasai Gunung Mendelem. Sebagai danyang, wanita-wanita di sekitar Gunung Mendelem tidak berani menggunakan pakaian yang dipakainya. Terutama warna dan jenisnya. Mereka tidak berani memakai baju kebaya warna hijau gadung. Mereka juga pamali menggunakan jenis kain jarit bermotif parikesit. Barangsiapa melanggar, siap terima akibatnya.

Bukan hanya itu. Wanita-wanita di sekitar juga tidak berani memiliki rambut terlalu panjang. Dewi Rantam Sari memiliki rambut panjang. Ia selalu tampil dengan rambut panjang terurai. Itu mengapa, pamali serupa berlaku dalam penampilan wanita-wanita di kaki Gunung Mendelem. Barang siapa melanggar pamali itu, akan ada manteke (resikonya). Ada akibat yang menimpa. Seperti ada hubungan sebab akibat. Dan keyakinan itu menjadi pedoman. Menjadi tata cara. Menjadi nilai yang dijunjung tinggi.

“Suatu hari, nasib sial menimpa Kusri. Pagi itu, Kusri mengurai rambut panjangnya. Ia jungkatan di pipir rumahnya sambil pepe,” kata mbah sastro, lelaki tua yang tinggal di pinggir sungai bentar.

(Ke hal 3..)

“Kusri tida-tiba mengeram. Kedua tangannya menjambaki rambutnya. Matanya seperti terbalik. Hanya putih matanya yang kelihatan. Kusri juga menjerit-jerit tak jelas sebabnya. Setelah beberapa lama dia terjatuh tak sadarkan diri,” lanjutnya.

“Dia kerasukan arwah Dewi Rantam Sari. Dia tak sadarkan diri. Tapi bisa bicara. Suaranya lain. Bukan Suara Kusri. Tapi suara Dewi Rantam Sari,” kisahnya.

“Terus apa yang dikatakan mbah?“

“Tentang banyak hal. Tapi intinya itu Kusri sedang menerima siksaan. Karena setelah itu, setiap hari raganya bisa dipinjam. Sewaktu-waktu Dewi Rantam Sari bisa merasuki jiwa Kusri. Dan itu akan terus berlangsung. Untuk menghentikan, maka harus meminta maaf. Biasanya dengan meminta pertolongan orang yang memiliki kemampuan ilmu,” katanya kemudian.

Sampai di situ, aku merasa tergerak untuk melihat wajah Gunung Mendelem. Dari halaman rumah kayu Mbah Sastro, nampak seperti tebing bebatuan hitam raksasa yang menjulang ke atap langit. Di sela-sela batuan, dedaunan hijau merambat, serupa lukisan pulau-pulau yang menghiasinya. Gunung batuan itu letaknya sendirian. Tidak berada di antara bukit yang sambung menyambung di sekitarnya. Posisinya, seperti tengah menatapi sang induknya, Gunung Slamet.

“Semacam pengobatan atau melalui ritual mbah?”

“Menurut saya lebih tepatnya melalui ritual.”

Aku melihat Gunung Mendelem begitu damai. Aku tak melihat lagi ia bergelut dengan diamnya yang menyimpan luka. Aku tidak melihatnya lagi, pohon-pohon dan batu-batu memanggil-manggil. Tapi masih dengan cara terdiam.

Jadi sebenarnya, siapa Dewi Rantam Sari?

“Siapa Dewi Rantam Sari?”

Beberapa hari belakangan, pertanyaan itu aku sodorkan kepada setiap orang. Dari jalan satu ke jalan lain. Dari sisi satu ke sisi lainnya. Dari pintu ke pintu. Dari orang-orang di bawah kaki Gunung Mendelem. Dari kata-katanya. Dari kebiasaanya. Bahkan dari relung hatinya yang paling dalam.

Sesekali, aku merasa harus menghindar. Menyisih dari mereka yang tidak percaya. Dari mereka yang merasa lebih tahu, lebih baik dari yang terjadi sebenarnya. Aku menemukan tempat lain. Tempat di mana orang-orang menyimpan kata-katanya. Serupa kata yang tak terdengar. Juga tentang sebuah perjalanan. Perjalanan hidup orang-orang yang tak terlihat oleh mata.

Memang, ada orang-orang yang terlalu angkuh menjunjung tinggi intelektualitas. Mereka lupa, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dihitung.

“Dewi Rantam Sari adalah Dewi Lanjar. Ratu Pantai Utara.”

Itu kata mereka! Kata orang-orang yang aku temui. Orang-orang yang tinggal di antara batu-batu hitam, pohon-pohon yang menjulang tinggi, di bawah Gunung Mendelem.

Sampai di sini, aku mulai menemukan arah. Aku bukan lagi orang yang kehilangan arah di tengah badai. Aku temukan diriku lewat suara-suara mereka. Aku mengerti apa yang telah kudengar dan kutulis saat kulihat orang-orang lain pun mengerti. Seperti kali ini, aku bisa memandang lurus ke mata orang-orang itu, dan mendapati jiwaku tidak sendirian.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya masyarakat pesisir pantai utara, mitos Nyi Rantam Sari dipercaya sebagai saudaranya Dewi Roro Kidul. Aku melihat dan mendengar, dari orang-orang pesisir pantai utara. Sejak dari Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang Pekalongan sampai Batang. Nyi Rantam Sari adalah nama sosok wanita legenda yang berjuluk Dewi Lanjar. Ia juga kerap dikaitkan dengan berbagai peristiwa-peristiwa misterius di pantai Utara.

Orang-orang Pekalongan juga mengaitkan Dewi Rantam Sari dengan Dewi Lanjar. Dari mereka, aku menemukan kisah tutur hubungan asmara Dewi Rantam Sari dengan Raden Bahurekso. Cerita itu dimulai pada masa kepemimpinan Sultan Agung. Ketika Sang Sultan dengan ditemani Raden Bahurekso sedang berburu menjangan di tengah hutan, matanya terpesona melihat seorang wanita yang sangat cantik yang ternyata adalah Dewi Rantam Sari dari Desa Kali Salak.

(Ke hal 4…)

Dikisahkan, setelah berhasil menguasai beberapa pulau di nusantara, Sultan Agung meminta Raden Bahurekso pergi ke Desa kalisalak. Untuk meminang Dewi Rantam Sari, gadis jelita di desa itu, menjadi selirnya.

BACA JUGA :  Gunung Mendelem (Jimat), Pura Sejarah Pemalang Yang Tersimpan

Jaka Bahu adalah seorang tumenggung bergelar Tumenggung Bahurekso. Disebutkan di buku itu, ia masih memiliki hubungan keluarga menyamping dari trah Mataram. Artinya, Bahurekso adalah seorang bangsawan dari Kesultanan Mataram. Hanya saja, dia berasal dari trah pihak ibu.

Ilustrasi : Kanjeng Sultan Agung ditemani Senopati Bahurekso sedang berburu menjangan di hutan dan melihat wanita cantik ( Dewi Rantamsari )

Orang-orang di kawasan Pantai Slamaran Pekalongan mengatakan, Dewi Rantam Sari menolak ketika dipinang Sultan Agung. Meskipun dia seorang Raja di bumi Mataram. Karena sejak kali pertama melihat kedatangan Bahurekso, ia justru terpikat dan jatuh hati kepadanya. Seperti gayung bersambut, Ki Bahurekso juga memiliki perasaan yang sama. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Bak simalakama. Raden Bahu dihadapkan pada dua dilema. Mana yang harus dikorbankan, tugas atau bahkan cinta di hatinya. Namun kebimbangan Raden Bahu dapat dibaca oleh gadis desa itu. Rantan Sari menyatakan bahwa di Desa Beluk ada seorang gadis cantik bernama Endang Wuranti. Anak penjual serabi. Dialah yang bisa dijadikan sebagai penggantinya.

Seketika itu, Bahurekso segera bergegas pergi ke Desa Beluk. Meminang Endang Wuranti. Dan gadis anak penjual serabi menerima tawaran itu dengan suka cita. Maka berangkatlah mereka menghadapkannya kepada sang raja. Tak disangka, Endang Wuryanti gelagapan saat ditanya Sultan Agung. Bahkan jatuh pingsan ketika tidak mampu menjawabnya. Rupanya sang raja tahu bahwa gadis di depannya bukan wanita yang dikehendaki.

Merasa dibohongi, sang raja meminta Bahurekso untuk mengembalikan gadis itu.  Di saat yang sama, Sultan Agung bertitah. Bahurekso diminta segera dan mulai itu juga untuk membuka hutan belantara Gambiran. Hutan yang belum terjamah manusia, angker dan sulit. Diam-diam, rupanya titah raja itulah hukuman atas kebohongannya.

Hubungan cinta Raden Bahu dan Rantam Sari berakhir di pelaminan. Tapi tugas sang raja  memaksa pasangan pengantin baru itu harus terpisah.

Bahurekso langsung babat alas.

Dalam mitos ini, orang-orang menganggap Rantam Sari adalah penjelmaan Nawangsari. Seorang bidadari dari kayangan. Ia turun ke bumi dan menjelma menjadi wanita cantik yang tinggal di Desa Kali Salak. Ia memberi nama dirinya Rantam Sari.

Konon, kisah ini bermula ketika Nawang Wulan, istri Joko Tarub ditolak ketika kembali ke kayangan. Karena dia dianggap telah melanggar kodratnya. Menikah dengan manusia, Joko Tarub. Dan satu-satunya bidadari yang berempati kepadanya adalah Nawangsari. Hanya Nawangsari satu-satunya bidadari di kayangan yang masih menerima dan membelanya.

Putus asa dengan nasibnya, tidak diterima di dunia yang menjadi kodratnya, Nawangwulan memilih mengakhiri hidupnya. Dia menjeburkan diri ke laut kidul. Namun karena kemampuannya, dengan sekejap ia telah berhasil menguasai seluruh penghuni gaib di Pantai Selatan. Bahkan dia dinobatkan sebagai Ratu Laut kidul berjuluk Nyi Roro Kidul.

Sementara itu, Bahurekso di Hutan Gambiran. Siang dan malam, ia bekerja membuka hutan. Ia meninggalkan Dewi Rantam Sari di rumahnya, Desa Kalisalak. Untuk mengisi waktu, Dewi Rantam Sari kerap berkomunikasi dengan Dewi Roro Kidul. Rasa kesepian ditinggal suami tercinta, tak jarang ia gunakan untuk saling berkunjung.

Hubungan kedua bidadari itulah, diceritakan menjadi penyebab retaknya rumah tangga Raden Bahu dengan Rantam Sari. Raden Bahu merasa terganggu dan melarang istrinya untuk tidak lagi berhubungan dengan Dewi Roro kidul. Sebaliknya, Dewi Roro Kidul tidak boleh lagi mengunjungi Dewi Rantam Sari.

(Ke hal 5 …)

Sebagai wanita yang memiliki latar dan sejarah asal muasal yang sama,  permintaan Ki Bahu tentu tidak mudah untuk dilakukan. Dewi Rantam Sari memilih berpisah dengan Tumenggung Bahurekso. Meskipun rasa cintanya begitu dalam. Dari perpisahan itu, Rantam Sari dikisahkan memilih hidup menjanda.

Perpisahan sang kembang desa dengan suaminya itu membuat banyak lelaki mencoba meminangnya. Namun Dewi Rantam Sari tak tergoda. Hatinya tetap memegang teguh janji sucinya. Memegang teguh cinta yang tumbuh dan hidup di hatinya. Dewi Rantam Sari tetap hidup menjanda sepanjang masa. Hidup sendiri, bak Kisah pohon kacang yang merambat di sebatang lanjaran di kebun-kebun petani. Sebuah lanjaran yang tak risau dengan kesendiriannya. Yang rela menjadi api penghidupan daun-daun kacang yang merambati tubuhnya. Yang setia menjadi tempat bersandarnya bunga dan serumpun buah kacang  yang menghidupi napas petani yang menghidupinya.

Itulah kisah cinta Dewi Rantam Sari. Sang kisah janda lanjar, Dewi Rantam Sari, si Dewi Lanjar.

Suatu ketika, Rantam Sari pergi meninggalkan Desa Kali Salak.  Dalam pengembaraannya itu, ia bertemu dengan seseorang yang sedang bertapa dan disarankan untuk berjalan menyusuri Kali Opak hingga ke muara laut Pantai Slamaran.  Dikisahkan di pantai itu, Dewi Lanjar tidak pernah kembali lagi. Menurut cerita, sesampai di Pantai Slamaran, Dewi Lanjar menjeburkan diri ke laut untuk pergi menemui Nyi Roro Kidul.

Sejak saat itu, Dewi Lanjar tak pernah kembali. Ia telah memilih tinggal  di alam gaib bersama Dewi Roro Kidul. Karena dunia nyata telah merampas keindahan rumah tangganya. Dunia yang tidak lagi menjadikan Dewi Rantam Sari menemukan dirinya dan kehidupannya yang utuh. Ketika ia mengalami keruntuhan cintanya, tapi ia tetap mengayunkan langkahnya. Untuk mendengarkan kisah cintanya yang abadi. Dalam hati.

Dewi Rantam Sari sadar, ia bebas menentukan takdir cintanya. Tapi baginya, mungkin perkawinannya itu hanya sebuah impian. Hanya seonggok cerita yang tak pernah dimengerti. Dewi Lanjar inging mengatakan itu kepada dunia. Mengatakan kisah cintanya yang tak pernah dikatakannya ketika masih ada di bumi. Dewi lanjar memilih pergi meninggalkan dunia. Itulah bahasa yang ia katakan. Bahasa yang tak pernah terucapkan. Bahasa yang ia tinggal, dalam puing-puing pesan yang memahkotai kisah cintanya, di istana Pantai Laut Utara.

Dewi lanjar, dengan caranya telah mengingatkan kepada dunia. Bahwa kekuatan cinta ternyata mampu menundukan dirinya melawan kodratnya sebagai wanita manusia, untuk menjalani hidupnya dalam kesendirian. Kekuatan cinta telah  memberikannya berani, untuk menghadapi dirinya sendiri mana kala dalam ketakutan.

Sekarang, aku sudah menemukan Dewi Rantam Sari. Aku memilih percaya bahwa dia memang ada. Ada di sekitar kita. Di balik denyut nadi kehidupan orang-orang yang hidup di bawah kaki Gunung Mendelem. Orang-orang di kaki perbukitan lainnya. Dari Bantar Bolang hingga puncaknya.  Dari mata hingga relung hatinya. Dari ucapan-upannya hingga perilakunya. Hidup tumbuh dan berkembang dalam kesehariannya.

Dari keseharian mereka, baik laki-laki dan perempuan di sana, aku mencari makna lain. Makna tentang segala pernik-pernik kisah Dewi Rantam Sari. Makna dibalik mitos dan legendanya. Aku terus berusaha menemukannya.