Makam Keramat Desa Kaso dan Legenda “Mbah Kramat Jati”, Pemalang
COMAL, mediakita.co – Selesai menunaikan tugas prajurit yang kalah perang. Rombongan Pasukan Mataram (Prajurit Surakarta Hadiningkrat untuk mengenang awal berdirinya, adalah Kasultanan Mataram). Tidak kembali ke Kasultanan Surakarya. Karena ada sumpah prajurit yang tak bisa disampaikan kepada yang lain.

Setiap orang mengganti berbagai identitas, kemudian bersama beberapa penduduk setempat membuka lahan pertanian yang semula hutan lebat. Tentu memilih yang dekat sungai.

Sungai yang paling lebar dan menuju ke laut di sebut Kali Caie (Sekarang Kali Comal). Untuk melakukan pertemuan dan barter antar warga, disebut Pabakulan (Pasar Comal).

Mbah Jati adalah laki-laki berkulit hitam dan tinggi besar menurut ukuran orang jawa (Prajurit selalu penduduk asli jawa). Membuka lahan pertanian bersama beberapa warga setempat di sebelah utara Pabakulan.

Pekerjaan membabad rumput setinggi dada, menebang pohon besar dengan kapak. Merupakan pekerjaan yang melelahkan. Maka Mbah Jati dan penduduk setempat beristirahat.

Sambil beristirahat, Mbah Jati menyampaikan ajaran Agama Islam yang dulu disampaikan melalui Kanjeng Sunan Kalijaga. Bahkan membuat sumur untuk wudhu dan membuat gubug untuk shalat, waktu itu disebut langgar. Mbah Kramat menjadi imam shalat.

Penduduk patuh pada semua ajaran yang disampaikan karena karomah yang dimiliki Mbah Jati. Maka penduduk setempat memberi nama tambahan Mbah Kramat Jati.

BACA JUGA :  Mbah Tunggul Pawenang, Babad "Alas" Desa Susukan

Tempat beristirahat dan berkumpul. Mendapat wejangan (ajaran) Agama Islam, dinamakan Kaso ( sekarang Sarwodadi). Sebagian penduduk lebih tertarik karomahnya, maka mereka lebih tertarik dan berusaha belajar karomah, dibanding teori yang tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Pada suatu siang, ketika Matahari tepat di atas ubun-ubun, Mbah Kramat Jati dan penduduk setempat istirahat sambil diskusi.

Suara-suara binatang dari hutan yang mengelilingi masih ramai. Ada suara ular derik ada kicauan burung. Udara panas. Sebab jauh dari perbukitan apalagi gunung. Kalau dilihat dari pantai – perlu jalan tujuh kilometer ke utara – lalu memandang ke selatan, Gunung Slamet nampak gagah dan tinggi-besar.

Sambil mengepulkan asap rokok lintingan sendiri (leswe = geles dhewe) dan setelah meneguk kopi yang kepul-kepul, Mbah Kramat jati sengaja memberi peluang penduduk untuk bertanya.

Beberapa menit, tak ada pertanyaan, penduduk hanya menunduk takut. Akan tetapi dalam batin yang bening, Mbah Kramat Jati yakin bahwa penduduk yang telah berbulan-bulan bersama membuka lahan pertanian ini ingin sekali mengungkapkan kegalauanya.

“Karena ndak ada yang nanya, maka aku yang tanya,” sambil menghisap rokok dan mengepulkan ke atas. “Mengapa kalian lebih tertarik karomah dibanding syariat Islam?”

BACA JUGA :  GP Ansor Peduli Covid-19 dan Gugus Tugas GP Ansor Serahkan Bantuan APD ke Wilayah di Jawa Tengah

Singodikromo mendongakan kepala dan merapikan blangkon yang dikenakan. Dengan lembut dan matanya kemudian memandang ke tanah, tak berani menatap Mbah Kramat Jati. Dengan tenang menjawab.

“Maaf…sebelum Agama Islam diajarkan kami, kami telah memiliki Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk membuktikan telah dekat dengan Gusti Allah, maka nampak berbagai karomah. Silakan saja yang lain menilai sihir. Kami menyebutnya kramat. Karena sampai saat ini kami merasa kalah kramatnya dengan Mbah Kramat Jati, maka kami memohon bisa mendapat ilmu kramat dari Panjenengan (kamu).”

Sesaat sepi. Suara suara dari balik pohon yang belum ditebang, semakin ramai. Matahari telah bergeser ke barat. Kini bayang-bayang jatuh ke timur.

Angin mendesis. Beberapa biji pohon kepuh jatuh ke tanah. Ada yang jatuh di depan Mbah Kramat Jati. Diambil.

“Mengapa biji ini jatuh?”
“Karena sudah tua maka sudah waktunya jatuh,” jawab Singodikromo.

“Benar. Akan tetapi apakah yang tua saja yang jatuh.”

“Karena batangnya membusuk lalu kena angin, maka yang muda jatuh.”

“Maksudku? Apakah tak ada campurtangan Gusti Allah?”

” Tentu ada. Tetapi kami punya pikiran untuk menjelaskan secara ilmiah. Pikiran kami juga dari Gusti Allah.”

Dalam hati Mbah Kramat Jati terdalam kurang.

Penulis : Kustajianto

Editor : Teguh Santoso