Pelajaran Literasi Digital Dari Film Tilik
Pelajaran Literasi Digital Dari Film Tilik

Film “Tilik” sedang viral saat ini di media sosial. Hingga Senin, 24 Agustus 2020 pukul 12.00 WIB, jumlah penonton film ini telah mencapai 10.000.000 sejak tayang enam hari lalu 17 Agustus 2020 di kanal youtube Ravacana Films. Meskipun film ini diberi keterangan telah diproduksi sejak 2018. Banyak hal bisa dipetik pelajaran dari film ini terutama bisa menjadi pelajaran literasi digital. Hikmahnya belajar dari pesan film ini publik dapat lebih bijak dalam mencerna informasi dan berita media termasuk media sosial yang berkembang pesat saat ini.

Youtuber Dodit Mulyanto (komika) yang kocak dan seringkali lebih suka dirinya disebut komedian turut memberikan komentar: “Bu Tejo: seneng ngrumpi dan pembawaannya nyebelin, tapi dia adalah warga yang kritis dan melek sosmed, dan ternyata dugaannya ada benarnya. Mungkin analisa Bu Tejo berasal dari pengalaman pribadinya, buktine gelange okeh. Dian kembang desa yang realistis, nggak apa apa oleh wong tuwek sing penting sugih. Bojone Bu Lurah fix *nga……  Tapi gpp emang godane wong lanang salah sijine modelan Dian”.

Dan memang, ‘Tilik’ sendiri mengisahkan serombongan  ibu-ibu kampung yang akan mem-bezoek Bu Lurah ke rumah sakit. Perjalanan mereka menuju rumah sakit dengan menumpang truk. Pergunjingan selama perjalanan tentu yang menarik dalam film pendek ini. Di laman twitter, kata ‘Tilik’ sendiri mencapai 17.400 lebih diperbincangkan.

BACA JUGA :  Paud Berbasis Koperasi

Dunia dalam genggaman

Dalam film ‘Tilik’, muatan perbincangan selama perjalanan menuju rumah sakit  sangat menarik. Gosip dan ‘ghibah’ berloncatan, dengan sumber berita dari gadget dalam genggaman mereka. Adalah tokoh Dian yang diperbicangkan, dengan status lajang berasal dari keluarga sederhana namun  dianggap tiba-tiba menjadi kaya. Bu Tejo memainkan peran besar dalam pergunjingan tersebut. Semua informasi melalui gadget-nya  dianggap selalu benar. Kebenaran dunia dalam genggaman.

Peran mBak Ning yang mencoba selalu kritis, bahwa berita juga butuh dikonfirmasi, selalu mentah di tangan bu Tejo, yang bahkan Bu Tejo mampu ‘mengorganisir’ ibu-ibu lain untuk pro kepadanya.

“Mangkane, nduwe HP kuwi yo aja mung nggo nggaya thok, tapi yo nggo nggolek informasi,” (makanya, punya HP itu jangan hanya untuk bergaya, tetapi  ya untuk mencari informasi) demikian kata Bu Tejo menasehati para Ibu-ibu, dan kondisi tersebut semakin menegaskan gadget sebagai sumber informasi yang seolah  tidak butuh klarifikasi.

Bu Tejo adalah cermin kita

Bu Tejo adalah sosok sentral dalam ‘Tilik’, penguasaan atas informasi melalui gadget yang dimilikinya mampu membawa Bu Tejo berbicara apa pun. Dan situasi ini disambut oleh ibu-ibu lain yang merasa haus akan informasi terkini, dan Bu Tejo seolah menjadi jawaban. Kemampuan persuasi Bu Tejo menghipnotis sekelilingnya.

BACA JUGA :  Koperasi Itu Badan Hukum atau Bukan?

Peristiwa penghentian truk oleh polisi, direspons sangat luar biasa oleh ibu-ibu. Dan, lagi-lagi Bu Tejo menjadi corong utama gerakan tersebut. Aturan lalu lintas dianggap menghambat tujuan, dan pelanggaran atasnya seolah boleh dan dibenarkan melalui aksi ibu-ibu ini dalam ‘mengeroyok’ petugas kepolisian.

Peristiwa yang menjadi sangat kontradiktif adalah di bagian akhir cerita, manakala rombongan tiba di rumah sakit dan bertemu dengan Dian. Kondisi bu Lurah yang masih dalam perawatan di Ruang ICU tidak bisa ditengok.

Keprihatinan yang menggerakkan ibu-ibu untuk menengok Bu Lurah pupus di ujungnya karena tidak bisa menengok. “Dadi wong ki sing solutip ngono lo yaaa..” (jadi orang itu harus bisa memberikan solusi), kata Bu Tejo berhasil ‘memaksa’ ibu-ibu lain untuk berbelanja di pasar sebagai ganti rasa kecewanya.

Kepada Bu Tejo kita semua bisa bercermin.

Oleh : Tim Redaksi