Refleksi Sejarah Yang Terkubur Era 1965

NASIONAL, mediakita.co – Menjelang peringatan 55 tahun tragedy 1965, Historia.Id menyelenggarakan diskusi bertema “1965: Sejarah Yang Terkubur” pada Selasa 29/09/2020. Sebagai pembicara dalam dialog adalah Grace Leksana selaku peneliti sejarah 1965, sekaligus Doktor sejarah alumnus Universitas Leiden, Belanda dan John Rossa selaku sejarawan University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Bonnie Triyana selaku Pemred Historia mengkerangkai diskusi dalam koridor akademis, sebagai sebuah langkah untuk membedah secara lebih objektif. Membedah sejarah seperti apa yang mengusik pikiran yang belum banyak terpecahkan, dan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk lebih mengetahui sejarah yang terkubur di tahun 1965

1965: Rekonstruksi Sejarah

bagi Grace Leksana peristiwa kekerasan 65 menjadi menarik yang dilakukannya dengan pendekatan riset sejarah untuk merekonstruksi peristiwa di sebuah desa di Jawa Timur tepatnya di Malang Selatan, ia mengatakan bahwa banyak hal yang belum terpecahkan.

“Hingga akhirnya kejadian itu terjadi (red:65) siapa yang terlibat, siapa yang datang, siapa yang hilang, dan sebagainya,” Tuturnya.

Ia mengaku harus mundur banyak ke belakang sebelum tahun 1965 dengan melihat keadaan masyarakat desa tersebut yang pada akhirnya ia akan menemukan sebuah pertanyaan, bagaimana masyarakat mengingat kekerasan tersebut. “Jawabannya sebenarnya sangat terkait dengan konteks di desa itu, selama ini studi-studi memori 65 bicara bagaimana pemerintah membangun narasi hanya di G-30S saja tapi tidak tentang kekerasan,”
Sementara menurut John Roosa, jika bicara normalisasi kekerasan, maka kekerasan tahun 65 tersebut tidak tepat bagi yang melihat.

BACA JUGA :  Trending: Antara Hastag #TurunkanJokowi dan #SayaBersamaJokowi Bersanding di Media Sosial

“Bagaimana kalau kita bicara pembunuhan massal sebenarnya kita harus bicara tentang penghilangan paksa, itu bentuk kekerasan tersendiri,” jelasnya.

Menatap Rekonsiliasi

Berkenaan dengan upaya rekonsiliasi, Grace mengatakan bahwa korban keinginannya tidaklah sama, “Ada yang memang ini permintaan maaf dari negara, ada yang pengen klarifikasi sejarah, dan sebagainya”

Namun menurut Grace, hasil penelitian yang dilakukan oleh Grace ada dua kesimpulan yang bisa dipetik sebagai refleksi. “Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain kita konteksnya agak sedikit berbeda. Pertama, seperti yang sudah diketahui, kelompok dari pelaku sekarang juga masuk dalam pemerintahan, yang kedua konsepsi tata negara itu kan sebagai salah satu sesuatu yang otonom, independen. tapi nyatanya dalam sejarah Indonesia kayaknya nggak pernah independen gitu selalu berkelit dengan kekuatan sipil, termasuk dalam melakukan kekerasan 65 juga,” tambahnya.

Grace berharap bahwa Negara memberi ruang bagi riset tentang 65 atau 68 dengan cara pembukaan arsip untuk menjadi modal awal untuk lebih terbuka. Ia juga berharap adanya jaminan keamanan ketika ada diskusi terbuka. “Sebenarnya ini peran yang lebih konkrit sebelum kita bicara permintaan maaf. Hal-hal yang mendasar seperti ini sebenarnya tahapan awal bagaimana negara bisa berperan,” tutupnya.

BACA JUGA :  UPDATE : Tambah 700, Total 26.473 Covid-19, Ini 5 Provinsi Tambah Kasusnya Tertinggi

Dan, di akhir acara, Bonny Triyana memberikan kesimpulan bahwa nilai kemanusiaanlah yang harus dijunjung. “Kemanusiaan tidak membatasi sekat ideologi agama, etnisitas tapi nilai kemanusiaanlah yang membuat kita punya prespektif yang lebih luas dalam melihat kekerasan yang penuh darah ini.”

Penulis : Fachriyah/mediakita.co