Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional

NASIONAL, mediakita.co,- 21 Februari tercatat sejarah sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional atau dikenal sebagai International Mother Language Day (IMLD).

Singkatnya, bahasa ibu sendiri dalam bahasa Inggris disebut native language yang artinya, bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak. Di mana pun anak itu lahir, kemudian ia memeroleh atau menguasai bahasa pertamanya, maka bahasa yang dikuasai tersebut merupakan bahasa Ibu.

Sedangkan menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam cuitan twitternya dengan menggunakan hastag #LestarikanBahasaDaerah #BahasaDaerahTerawat dan #BahasaIndonesiaBermartabat mengatakan bahwa bahasa ibu merupakan peletak dasar kecerdasan anak yang harus dijaga keberadaannya.

“Dalam konteks di Indonesia, bahasa ibu diidentikkan dengan bahasa daerah atau bahasa lokal. Pengindentikkan ini didasarkan pada keberagaman suku dan wilayah yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda,” tulisnya dalam laman resmi twitternya, 21/02/21.

Hari Bahasa Ibu Internasional sendiri, berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Resolusi bahasa internasional ini disarankan oleh seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada, Rafiqul Islam.

BACA JUGA :  Kecelakaan Truk di Tol Karawang Timur, Lalin Padat

Konon, Rafiqul menulis surat kepada Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998 yang memintanya untuk mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

Pada akhirnya dipilihlah tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional karena di tanggal tersebut, Bangladesh mengalami pembunuhan pada tahun 1952 dalam memperjuangkan bahasa Bangli di Dhaka. (Fakhriyah/Mediakita.co).