Desa Rogo Bangkit Melalui Agenda Desa Inklusi

DESA KITA, mediakita.co – Gempa bumi di Sulawesi Tengah berdampak terhadap Desa Rogo, Kec. Dolo Selatan, Kab. Sigi. Akibat gempa tersebut, struktur batuan perbukitan yang ada di Desa Rogo mengalami perubahan, sehingga ketika terjadi hujan besar dan lama mengakibatkan banjir bandang yang menerjang desa Rogo.

Akibat dari banjir bandang sendiri, melumpuhkan berbagai sector ekonomi masyarakat. Ajmain Ramadhan (48 tahun) selaku Sekretaris Desa Rogo menyampaikan bahwa saat ini masyarakat Rogo mengalami kesulitan ekonomi. Sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan perekonomian warga hancur akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu.

Upaya Desa Rogo bangkit, setidaknya telah dirintis, di mana pada Senin – Selasa 30/11 – 01/12 di desa tersebut, bertempat di Gedung PAUD Al-Khairat Desa Rogo dilakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) Desa Inklusi, hasil kerjasama antara Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) serta Pemerintah Daerah setempat. Bimtek Desa Inklusif sendiri merupakan agenda untuk mengimplementasikan secara lebih nyata UU No 6 Tentang Desa.

Menuju Desa Inklusif

ajibpol

Desa Rogo sendiri berada di lembah, dengan latar belakang perbukitan yang subur. Sebagian besar warga desa adalah petani/pekebun dengan tanaman andalan padi, jagung dan coklat. Produksi yang melimpah dan kualitas yang sangat baik, memberikan harapan hidup yang cukup bagi warga desa.

Di balik tanah yang subur tersebut, bukit yang menjadi latar belakang desa ternyata selepas peristiwa gempa bumi menjadi ‘ancaman’, dikarenakan jenis batuan perbukitan yang merupakan jenis batu padas. Efek gempa bumi menjadikan batuan perbukitan menjadi hancur, dan saat hujan besar tiba, memunculkan banjir bandang yang meluluhlantakkan desa.

“Pasir akibat banjir bandang bisa masuk ke dalam rumah setinggi satu setengah meter. Sementara ladang warga kami juga banak yang rusak, tanaman yang siap panen hancur,” demikian disampaikan Sekdes Ijmain Ramadhan.

BACA JUGA :  Sunat DD, Seorang Kades di Pemalang di Demo Warga, Polisi Tetapkan Tersangka

Lebih lanjut Ijmain menjelaskan, “Kami berharap, melalui bimtek ini, kami bisa merumuskan kembali persoalan warga desa, seluruhnya, baik yang miskin, penyandang difabel, masyarakat adat, lansia, perempuan juga anak-anak tanpa kecuali agak kebutuhan mereka masuk dalam proses musyawarah di desa kami,” tegasnya.

Sementara itu, dari perwakilan Kemendes PDTT, Dwi Bangun Yulianto menyatakan, “Desa Rogo merupakan salah satu dari desa pilot untuk pengembangan desa inklusi. Desa untuk semua warga desa, tanpa kecuali. Dengan menerapkan prinsip inklusi, kami Kementerian Desa PDTT yakin bahwa desa akan maju, jika di dalamnya ada kesetaraan, keterbukaan serta partisipasi dalam mengelola seluruh potensi desa,” tegasnya.

Mengubah Bencana Menjadi Kencana

Di akhir acara Bimtek tersebut, peserta yang terdiri dari warga desa, kepala dusun, anggopa BPD dan juga pemuda desa terlibat dalam menyusun rencana tindak lanjut kegiatan. Kegiatan yang disusun berasal dari persoalan yang dihadapi desa, baik dari kelompok perempuan dan anak, masyarakat miskin, kelompok difabel, masyarakat adat dan juga lanjut usia.

Dari masalah yang dihadapi warga desa, dipadukan dengan potensi yang ada di desa, peserta Bimtek merumuskan jenis kegiatannya. Namun demikian, banyaknya potensi desa yang terkubur oleh limpahan pasir akibat banjir bandang menjadikan warga desa harus mengubah cara berpikirnya.

Limpahan pasir sisa banjir bandang yang menggunung, pada akhirnya harus dijadikan potensi alam yang harus diubah agar menjadi nilai ekonomi perubahan tersebut akan memberi dampak pada sector ekonomi. “Ya, kami harus menjadikan pasir dan batu yang saat ini berserakan agar bisa menjadi nilai ekonomi bagi warga. Kami akan mencontoh beberapa warga desa lain yang telah memanfaatkan pasir menjadi bahan batako dan juga paving. Harapan kami, hal ini bisa membantu mengatasi persoalan kemiskinan yang ada di desa, terutama saat lahan kami masih belum bisa digunakan karena musibah banjir bandang,” kata Iwan warga desa Rogo yang menjadi saat satu peserta Bimtek.

BACA JUGA :  Mengagas Desa Inskusif untuk Lawan Diskriminasi Bagi Difabilitas ?

Hal senada disampaikan oleh Syaiful Taslim dari Lembaga KARSA yang menjadi salah satu narasumber dalam Bimtek. Ia menyampaikan bahwa pembangunan Desa Rogo selain harus bersandar pada potensi desa, juga harus melakukan penguatan kelembagaan serta penguatan kerjasama lintar sector.

Peran Kagama Sulteng

Di penghujung acara, Idris Y. Min’un Ketua Satgas Desa Inklusi yang mewakili DPW Kagama Sulteng menyampaikan, bahwa Kagama Sulteng akan terus terlibat mengawal proses pengembangan desa inklusif di Sulteng, khususnya di desa lokasi pilot.

“Terutama di Desa Rogo ini, kami dari Kagama, sakan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk terlibat dalam pengembangan desa inklusi, juga mendorong pengoptimalan potensi desa agar mampu memberikan manfaat besar bagi desa. Seperti lahan yang saat ini terancam oleh kemungkinan banjir bandang, kami akan berkoordinasi dengan tim yang memiliki kemampuan melakukan analisis geologis desa Rogo. Dari hal semacam ini setidaknya kita bisa berkontribusi menyampaikan jenis program yang harus dilakukan sesuai dengan karakter desanya,” kata Idris memberikan contoh tentang peran yang akan dilakukan oleh Kagama Sulteng.

Dukungan bagi pengembangan desa inklusif tersebut juga diberikan oleh Ketua DPRD Provinsi Sulteng yang sekaligus merupakan Ketua DPW Kagama Sulteng, Nilam Sari Lawira, saat Tim Satgas Desa Inklusi dan Tim Fasilitator berkunjung ke kediamannya. Nilam Sari menyampaikan, bahwa ia akan mencoba dalam waktu dekat melakukan assessment dan segera membangun menara komunikasi untuk membantu masyarakat bisa mengakses internet secara murah. “Saat pandemic saat ini, nampaknya pengembangan layanan komunikasi online tidak bisa tidak harus disegerakan. Kami akan coba bangun,” katanya di sela-sela perbincangan.

Penulis : Harshan/mediakita.co