Sumpah Prajurit : Mbah Kramat Jati  dan Asal-Usul Desa Kaso Dengan Budaya Uniknya di Pemalang
Sumpah Prajurit : Mbah Kramat Jati  dan Asal-Usul Desa Kaso Dengan Budaya Uniknya di Pemalang
PEMALANG, mediakita.co – Karena sumpah prajurit, Mbah Kramat Jati dan pasukannya yang kalah perang melawan VOC di Batavia, memilih tidak kembali ke ke Kasultanan Surakarta. Di sebuah tempat yang sekarang menjadi Desa Kaso, Kecamatan Comal, Mbah Kramat Jati beristirahat.

Mbah Kramat Jati dan Mbah Tabet beserta pasukan lainnya kala itu, telah kehilangan cadangan bahan makanan. Peristiwa naas itu terjadi lantaran persediaan logistik pasukannya dibakar oleh para pengkhianat.

Untuk itu, Mbah Kramat Jati harus membuka hutan di wilayah tersebut. Bersama sisa pasukannya, mereka membuka lahan pertanian, membangun rumah yang jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari.

Bagi seorang prajurit, Mbah Kramat Jati terikat dengan sumpahnya sebagai seorang  prajurit. “Pulang membawa kemenangan atau mati dalam peperangan”. Itulah sumpah yang dipegang teguh di dalam batinnya. Sumpah yang tak perlu dikatakan kepada siapapun. Tapi hidup abadi, didalam jiwanya.

Hari ini dan hari-hari kemarin yang lupa menghitungnya, sisa pasukannya bekerja keras akan tetapi makan seadanya. Mereka baru saja makan singkong rebus dengan gula merah, sebagai penduduk baru diwilayah yang dibukanya.

Gula buatan penduduk itu dimasak dengan cara mengumpulkan getah bunga pohon kelapa (manggar) dalam bumbung (bambu). Bunga getah yang diperoleh dengan cara memanjat pohon kelapa lalu memotong manggarnya. Di bawahnya, disediakan bumbung yang menampung getah manggarnya.

Setelah sehari semalam diambil dengan memanjat pohon dan mengganti dengan bumbung kosong, getah dibawa turun.  Getah manggar direbus di atas tungku dengan wajah terbuat dari tanah liat.

BACA JUGA :  Misteri Hantu Wewe di Jalan Gombel Lama Semarang 

Selama itu, getah manggar digerak-gerakan sampai warnanya kemerah-merahan. Barulah dicetak sampai dingin dan berbentuk lingkaran yang pipih atau setengah lingkaran.

Sejak saat ini, penduduk sepakat  tempat itu disebut dengan nama Kaso. Nama Kaso diambil dari sejara assal-usul mereka memasuki wilayah ini, semula hanya untuk beristirahat. Kaso diambil dari asal kata “ngaso” yang artinya istirahat.

Diyakini oleh sebagian warga, kalimat ngaso menjadi Kaso karena wilayah tersebut menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Dalam sejarahnya diriwayatkan,  warga ditempat itu kemudian selalu mendapat wejangan (ajaran) Agama Islam dari Mbah Kramat Jati.

Sementara, Mbah Tabet meski dipanggil Mbah, sebenanrnya masih remaja. Kebiasaan penduduk setempat memanggil mbah, untuk orang yang bisa mengobati atau memberi wejangan agama.

 ***

Suatu siang ada pohon kepuh sebesar sepuluh orang dewasa. Diceritakan ketika itu, mereka bersama-sama tengah menebang pohon tersebut. Sejak pagi, sudah lima kapak patah bahkan mata kapaknya selalu tumpul.

Berdasarkan petunjuk batin yang diterima Mbah Kramat Jati, penebangan pohon kepuh terbesar itu harus dibatalkan. Untuk dijadikan fakta sejarah generasi yang akan datang, maka penebangan dihentikan. Konon, dibawah pohon itu ada makam tua.

Sementara, tugas Singodikromo adalah mengasah semua kapak yang tumpul. Saat itu, Singodikromo mendadak dimintai tolong oleh orang  terakhir yang menebang pohon kepuh itu. Dengan tersega-gesa, ia minta diasah lebih dulu. Darno namanya.


“Tolong Mas Singo…punyaku diselagake (didahulukan). Buat motong jati yang di sana,” sambil mengacungkan jari ke utara.

BACA JUGA :  Karomah Mbah Nur Walangsanga

Diselagake, dalam arti yang dikehendaki Darno adalah di dahulukan. Memang, diselagake memiliki arti jamak. Selain didahulukan, diselagake dalam arti hitam-putihnya memiliki arti lain, yaitu diselipkan atau dijepitkan.

“Siap Pak,” jawab Singodikromo.

Tanpa curiga Darno bergegas pergi ke tempat robohnya pohon jati yang paling besar.

Singodikromo dengan tenang menyelipkan kapak milik Darno di antara dua pohon katilayu yang sebesar lengan.

Waktu istirahat siang, Darno menanyakan kapaknya pada Singodikromo.

‘Sudah?” Tanya Darno.

“Sudah.” Jawabnya tenang.

“Dimana?”

“Itu.” Sambil menunjuk kapak yang terselip di pohon katilayu. Darno mengambil dan memperhatikan kapaknya ternyata masih tumpul. Utuh tumpul dan nampak belum diasah. Darno langsung naik darah.

“Kau ini gimana…ditunggu hampir satu jam kapaku masih tumpul. Apanya yang sudah? ” Sergah Darno sambil mengusap-usap mata kapak yang masih tumpul.

“Sudah dakselagake…sesuai permintaanmu,” jawabnya tenang tanpa dosa sambil mengepulkan rokok.

“O…ala Ngo…Singo. Hem….”

Darno tidak jadi marah tetapi juga tidak tertawa. Ada rasa dongkol tetapi merasa salah karena mengucapkan ‘diselagake’.

Penduduk lain yang tahu kejujuran Singodikromo, hanya tersenyum-senyum. Mbah Kramat Jati memperhatikan dari jauh juga tersenyum.

“Rasain…!”, gumam penduduk Desa Kaso ketika itu.

Uniknya, hingga kini, bagi sebagian orang di Desa Kaso, gaya berkomunikasi ala Singodikromo masih terus abadi dan menjadi salah satu budaya komunikasi paling unik di Pemalang.

Berawal dari kisah ini, maka pohon kepuh yang tak bisa ditebang, karena begitu rindang, di bawahnya mulai dibangun mushola.

Tamat.

Oleh : Kustajianto

Editor : Bambang Mugiarto